Hi,Welcome!

Low Cost Adventure Enthusiast
Follow Me

Trip Dalam Selubung Lara



By  Hendri Uut Fahrullah     Maret 13, 2018    Label: 

Melakukan trip ditengah rasa kekecewaan yang mendera merupakan sebuah dilema tersendiri bagiku. Hal itulah yang tengah aku lakukan setelah menerima kenyataan bahwa gagal dalam seleksi masuk kerja di salah satu kampus di Kota Malang. Aku palingkan perasaan kekecewaan ini dengan berjalan-jalan mengintip sudut Kota Malang yang mbois.

Awalnya aku cukup antusias ketika akan mengikuti sebuah tes di salah satu kampus Kota Malang. Sebelum hari keberangkatan aku mencoba buka-buka IG, untuk mencari kontak dari temen-temenku yang masih stay di Malang. Udah pasti maksud dan tujuanku tersebut ialah untuk mencari tumpangan gratis. Hingga akhirnya pilihanpun jatuh kepada seorang adik kelas kala SMA dulu, Haffid. Dan sebenernya aku baru tau juga kalau ternyata dia barusan lulus dari salah satu kampus negeri di Malang, dan kebetulan dia belum punya niatan untuk pulang ke kampung halaman.

Perjalanan aku awali sekitar pukul 06.00 pagi dari terminal Jajag. Terpaksa perjalanan kali ini aku lakukan dengan menggunakan bis karena yang sedianya ingin menggunakan kereta namun kehabisan tiket. Bis yang aku tumpangi ialah Basudewa dari PO. Harapan Baru. Bisnya keren, bersih, crewnya juga friendly, pokonya membuat kita nyaman, overall bagus lah untuk sekelas bis umum. Harga tiket untuk perjalanan dari Terminal Jajag sampai Terminal Arjosari Malang sebesar 65K, terpaut 3K lebih mahal dari kereta yang hanya 62K, tapi yaudah lah.  Perjalananku kali ini terasa agak lama, yaitu sekitar sembilan jam perjalanan, karena nyampek terminal Arjosari sekitar pukul 03.00 sore. Setelah turun dari bis aku langsung menghubungi Haffid yang berjanji akan menjemput di terminal. Sambil menunggu dia datang aku berkeliling mencari pintu keluar terminal karena tak ingin merepotkannya untuk menjemputku di area dalam terminal, dan sebenernya merupakan bentuk antisipasi agar dia gak dituduh Ojol seperti yang aku alami beberapa waktu lalu di stasiun Jember. Dalam berkeliling mencari pintu keluar tersebut beberapa sopir angkot berteriak menawarkan angkot ke Tumpang, mungkin dikiranya aku mau Bromo. Selang beberapa menit akhirnya Haffid datang, dan yang bikin aku “ketar-ketir” ternyata dia udah menunggu di parkiran atau tepatnya depan pintu masuk terminal. Akupun memastikan kepadanya, memang gak papa penjemput masuk sampai area sini. “Ogak popo mas”, katanya dengan mantab. Yaudah syukurlah.

Setelah bersalaman diapun memberikan helm yang dibawanya lalu kemudian mengajakku menuju ke kontrakannya. Tapi sebelumnya aku meminta kepadanya untuk dianterin cari tempat makan, maklum udah hampir seharian didalam bis menahan lapar. Lantas diapun mengantarkanku ke sebuah warung ala-ala anak kosan, yang katanya sih ini merupakan warung langganannya dulu. Dan “pueehh” manteb bener ini warung, karena selain harganya murah disini kita dapat mengambil sendiri nasi dan lauknya bebas namun bayarnya tetap sama, cuman 10K man. Setelah kenyang kitapun langsung menuju ke kontrakan Haffid yang berada di Merjosari. Ternyata di kontrakannya tersebut ada beberapa temennya yang juga ikut mengontrak bersama, jadi satu rumah di kontrak rame-rame. Setelah bersalaman, berkenalan,  dan meminta ijin kepada temen-temennya Haffid tersebut akupun memutuskan untuk langsung beristirahat. Yah, untuk recovery tenaga setelah perjalanan hampir seharian sekaligus mempersiapkan mental untuk tes keesokan harinya.

Sebelum pukul 04.00 pagi aku terbangun lebih awal, mungkin karena terlalu excited dengan tes yang akan aku hadapi nanti. Seusai ibadah shubuh aku keluar kontrakan. Niatnya sih mau jalan-jalan sekaligus melihat pergeliatan masyarakat kota Malang dikala pagi. Berjalan kaki dari Merjosari hingga akhirnya tak terasa nyampek di depan kampus Unisma. Tapi disitu momen kamvret mulai muncul, perut mules dan aku bingung harus BAB dimana. Ditengah kebingungan tersebut akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke sebuah Pasar Modern yang terletak tepat disebelah kirinya kampus Unisma. Sempat bertanya kebeberapa tukang parkir dan penjual di dalam pasar hingga akhirnya menemukan toilet yang berada di pojok lantai 2 pasar. Akhirnya.. lega juga rasanya, hmmm. Lalu akupun turun dari lantai 2, namun kemudian pandangan tertuju pada deretan warung makan yang berada disisi pojok pasar, atau bersebelahan dengan parkir dalam pasar yang berada dilantai dasar. Sarapan di salah satu warung kayaknya boleh juga tuh, sekaligus bisa menghemat waktu untuk persiapan berangkat ke tempat tes nanti. Harganya lumayan sih, namun agak lebih mahal jika dibandingkan dengan warung langganannya Haffid tadi, yaitu terapaut 5K lebih mahal. Seusai sarapan akupun langsung bergegas kembali ke kontrakan Haffid, untuk persiapan perlengkapan, mandi, lalu kemudian berangkat.

Dan lagi-lagi aku merepotkan Haffid, untuk datang ke lokasi tes aku diantar olehnya. Gak tau harus bilang gimana padanya, baik banget. Setelah nyampek di lokasi tes, yaitu di sebuah kampus  yang berada di Jalan Ijen Besar, akupun bingung harus menuju kemana karena areanya yang cukup besar. Namun untunglah panitia menyediakan papan denah yang menunjukan kelas-kelas atau ruangan tempat ujian. Setelah melihat papan denah tersebut tanpa buang waktu akupun langsung menuju ke ruangan seperti yang tertera di kartu tanda pesertaku. Hingga akhirnya tak sengaja berjumpalah dengan seorang kawan baru. Awalnya sih sedikit canggung ketika bertanya, kemudian berkenalan dan ngobrol, karena aku pikir (mungkin dia juga merasa) kalau kita rival :D . Dia adalah Mas Yoga, yang datang dari Pekalongan. Kita ngobrol sedikit tentang basic kita masing-masing, dan ternyata kita berbeda program, juga bukan rival dalam tes kali ini. Dalam hati sebenernya berucap, “Alhamdulillah.. kalau dia bukan sainganku”. Hingga setelah tes usaipun obrolan kita masih berlanjut. Mulai dari curhatanku mengenai soal tes yang susahnya minta ampun, lalu keluh kesahku atas kegagalan dalam tes barusan, dan juga masukan darinya atas pengalamannya dalam menghadapi tes semacam itu tadi. Hingga akhirnya dari obrolan tersebut kita sama-sama tau kalau ternyata kita sama-sama penikmat dolan. Tentu obrolan kita makin seru ketika membahas ngetrip atau dolan. Dari pembahasan ngetrip tersebut kemudian akupun mengajak Mas Yoga untuk berkeliling Kota Malang, tujuannya pun jelas, apalagi kalau bukan untuk pemaling luka dalam hati akibat kegagalan dalam tes tadi. Dan ternyata Mas Yoga pun menyetujuinya. Namun permasalahannya kini ialah kita sama-sama bingung, kita mau kemana.. Karena aku suka banget dengan musium dan sepertinya ada banyak Musium di Kota Malang, akupun menawarkan ke Mas Yoga, “Gimana kalau kita ke Musium aja mas?”. Lagi-lagi dia pun langsung menyetujui tawaranku tersebut. Setelah bergoogling sebentar, mencari Musium apa aja yang ada di Kota Malang, akhirnya pilihanpun jatuh ke Musium Musik Indonesia.

Setelah Ibadah Dzuhur kita langsung menuju ke Musium Musik Indonesia yang berada dijalan Nusakambangan menggunakan Taksol. Namun sebelum itu Mas Yoga bilang kalau nanti seorang temennya yang ada di Malang akan menemuinya. Yaudah deh mantab, bisa kita jadiin tourguide nanti untuk destinasi selanjutnya setelah dari Musium Musik Indonesia. Akhirnya Taksol orderan kita datang, pak sopirnya tanya mau kemana kita, sontak kitapun mengucapkan ke Musium Musik Indonesia secara bersamaan. Namun sepertinya Pak Sopirnya masih agak bingung dengan tujuan kita kali ini, karena beliau bilang kalau sebenernya beliau adalah seorang pendatang. Waduh.. Pak sopirnya aja bingung apalagi kita yang tak mengetahui sama sekali wilayah Kota Malang. Dengan berandalkan Google Map kitapun diantar ke tujuan orderan kita, yaitu jalan Nusakambangan tempat dimana Musium Musik Indonesia berada. Namun apa yang terjadi, ternyata kita sempat salah alamat, kita diantarkan ke sebuah tempat Kursus musik, yang mana sama-sama mempunyai nama “Musik Indonesia”. Kita pun komplain ke Pak Sopirnya, “Lho pak, ini kan bukan musium. Masak Musium bangunannya kayak gitu”. Pak Sopirnyapun juga bingung, namun beliau tetap memastikan kepada kita bahwa alamat yang diarahkan oleh Google Map memang mengarahkan ke alamat itu. Ditengah kebingungan kita kali ini Pak Sopirpun berinisiatif bertanya kepada seorang tukang parkir. Dan ditujukanlah ke alamat Musium Musik Indonesia yang sebenarnya oleh Bapak tukang parkir tadi. Alhamdulillah.

Setelah nyampek di depan Musium Musik Indonesia kita sempat kembali bingung, apakah Musium sedang buka ataukah sedang ditutup, karena terdapat janur melengkung (penjor) tepat di gerbangnya. Namun karena kita udah terlanjur nyampek situ akhirnya kita mencari  tau akan kepastian tersebut. Dan kebetulan ada salah seorang opa-opa yang habis keluar dari dalam gedung, lalu menginformasikan kepada kita bahwa Musium sedang buka, dan penjor tersebut adalah bekas dari sebuah acara orang punya hajat yang menyewa gedung lantai dasar Musium. Untuk koleksi Musiumnya berada di lantai atas. Setelah mendengar informasi dari Opa tersebut kita pun bergegas masuk gedung dan menuju lantai atas (lantai 2) tepat koleksi-koleksi Musium tersimpan. Pertama kali melihat koleksi-koleksi di Musium Musik Indonesia yang terbayang dibenak ialah toko kaset, karena banyaknya kaset yang berjajar dan tersusun rapi di rak. Tak lama kita disambut oleh om om berpakaian nyenterik. Oh, ternyata beliau adalah founder dari Musium Musik Indonesia, om Hengky (kalau gak keliru namanya), beserta mas mas yang sayang banget aku lupa namanya. Oh ya, untuk tiket masuk Musium Musik Indonesia ialah sebesar 5K, dan itupun kita udah dapet sticker. Keren banget.
Koleksi Kaset Musium Musik Indonesia

Tak seperti kebanyakan musium pada umumnya disini kita tak hanya sekedar melihat-lihat koleksi yang ada, namun kita dipersilahkan untuk memutar atau mendengar koleksi-koleksi tersebut. Dengan ramah mas nya tadi membantu memutarkan salah satu kaset yang aku pilih pada sebuah alat putar, semacam walkman gitu kayaknya. Salah satu keistimewaan dari Musium Musik Indonesia dan membuat kita nyaman berada disitu ialah sikap orang-orangnya, baik Om Hengky maupun masnya bersikap humble dan friendly. Bahkan begitu beliau-beliau tau aku punya basic perpustakaan kita sempat sharing mengenai pengolahan koleksi dan temu balik informasi yang ada di Perpustakaan dengan yang ada di musium. Ditengah obrolan sharing kita tersebut tiba-tiba temen Mas Yoga yang katanya mau menemui tadi datang. Namanya Mbak Happy, seperti namanya dari awal ketika kita kenalan memang dia seorang cewek yang bersikap Happy. Dia datang agak jauh, yaitu dari Malang selatan untuk menemui Mas Yoga. Cieee.. perjuangan banget. Setelah Mbak Happy datang barulah kita bertiga menyusun rencana, enaknya mau kemana nih. Mbak Happy sih ngasih rekomendasi ke kita di daerah Batu, karena banyak spot wisata mbois disana. Namun dari Mas Yoga menolaknya, karena selain agak jauh dari Kota Malang dia harus kembali ke Terminal Arjosari setelah magrib nanti, ini jelas nggak memungkinkan. Lalu akupun usul ke Musium Brawijaya. Namun ternyata setelah cek di google Musium Brawijaya akan segera tutup sekitar pukul 04.00 sore. “Lah terus kita mau kemana.. Enake menyang endi..”, kurang lebih seperti itu kata yang terus terlempar berulang-berulang diantara kita bertiga. Hingga akhirnya Mbak Happy ngasih rekomendasi alternatif, “Gimana kalau ke Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni Jodipan. Nanti kita bisa naik jembatan kaca. Jaraknya juga gak jauh sih dari sini”. Tanpa buang waktu aku langsung setuju,”Ayo budal!”. Jujur, alasanku langsung setuju dengan rekomendasi Mbak Happy ini ialah karena penasaran dengan jembatan kaca yang dikatakannya tadi. Apakah benar ini seperti jembatan kaca yang ekstrim kayak di tv-tv itu.
Kampung Tridi Jodipan Malang

Kita bertigapun bergegas menuju ke Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni, tepatnya di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing. Mas Yoga berboncengan dengan Mbak Happy, sedangkan aku mengorder Ojol. Setelah nyampek di Jodipan baru aku tau yang ternyata letaknya gak jauh dari stasiun Kota Baru Malang. Selanjutnya blusukan kita mulai dari Kampung Tridi, baru kemudian menuju Kampung Warna-warni. Untuk tiket masuknya kita dikenakan harga 2,5K / perorang, namun yang unik ialah tiket tersebut bukanlah berbentuk kertas, namun berbentuk gantungan kunci yang unyu bingit. Sepertinya hasil dari kerajinan masyarakat setempat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dalam germas darwis.  Lalu kesan pertama saat masuk kampung ini ialah teringat sebuah film yang di bintangi Vin Diesel yang bersetting di Brazil, yaitu perumahan rapat dengan cat warna-warni ditambah lukisan 3D yang tampak seperti nyata. Dan serpertinya ini pas banget buat traveller yang doyan banget bereksistensi.
Salah Satu Lukisan di Kampung Tridi yang Kece

Kita juga beruntung, karena sempat menyaksikan proses pembuatan lukisan 3D yang superkece disalahsatu sudut kampung tersebut. Dilihat dari prosesnya sepertinya lukisan tersebut mirip dengan pembuatan lukisan dengan teknik airbrush. Tak lama berjalan setelah melihat proses pembuatan lukisan tersebut kita menaiki tangga kecil dipinggir sungai. Oh, ini toh ternyata jembatan kaca yang diceritain Mbak Happy tadi. Kesan pertama saat menaiki jembatan tersebut biasa aja, gak se-ekstrim seperti ekspetasiku ketika Mbak Happy bercerita tadi. Karena efek transparan yang dimbulkan lantai kaca jembatan menurutku masih kurang greget. Hal menarik yang dapat dilakukan ketika berada di jembatan tersebut ialah apalagi kalau bukan bernarsisria. Dari atas jembatan tersebut kita akan mendapatkan latar foto yang kece, yaitu deretan perumahan padat yang nampak seperti bertumpuk dengan aksen tembok dan genteng yang berwarna-warni. Namun momen spesial yang banyak ditunggu pengunjung ialah ketika terdapat kereta melintas di jembatan perlintasan yang terletak di atas kampung. Suwer, itu merupakan momen yang Mbois Ilakes Sam!. Pantas aja kalau jembatan tersebut merupakan spot terfavorit pengunjung. Lalu karena kapasitas jembatan dibatasi  beberapa orang, sedangkan pengunjung lain jumlahnya semakin bertambah kitapun memutuskan turun untuk selanjutnya menuju ke Kampung Warna-warni yang secara umum tak jauh berbeda dengan Kampung Tridi, yaitu tembok dan genteng warga yang di cat warna-warni dan berlukis gambar sebagai ciri khas dan daya tariknya. Diantara kita bertiga nampaknya hanya aku yang berantusias untuk narsis, selain itu yang kita lakukan hanya mengobrol santai sambil melihat keasyikan beberapa anak kecil yang sedang bermain di pinggir sungai.
Jembatan Kaca Menjadi Spot Terfavorit Pengunjung

Hingga akhirnya tak terasa sang mentaripun mulai tenggelam ke peraduannya, dan membuat Mas Yoga harus segera bergegas menuju ke Terminal Arjosari. Pertanda bahwa kita akan berpisah dan mengakhiri trip kali ini. Kita pun saling berpamitan, saling berpesan semoga bisa ketemu dan ngetrip bersama kembali. Tak lupa aku juga memprovokasi mereka untuk datang ke Banyuwangi. Di Banyuwangi tak kalah kece loh wisatanya, khususnya wisata alamnya. Dan sepertinya mereka menunjukan antusias ketika aku memprovokasinya. Well, saatnya kita berpisah, kembali ke asal kita masing-masing. Mas Yoga kembali ke asalnya, Pekalongan. Begitu pula dengan Mbak Happy, tour guide kece kita kali ini juga kembali pulang kerumahnya di daerah Malang selatan. Sedangkan aku kembali ke kontrakan Haffid, karena masih harus numpang satu malam untuk kemudian berpulang keesokan harinya. Berpulang dengan rasa kecewa yang mendera. Berpulang dengan harapan yang patah yang sulit aku terima kenyataannya. Namun, bukankah kita harus belajar dari sebuah kegagalan. Seharusnya iya. Karena bisa jadi Tuhan punya rencana lain (Takdir) yang tak kita ketahui. Bisa jadi rencana-Nya itu jauh lebih pantas dari apa yang kita harapkan, Insya’Alloh, semoga aja.

See You On The Next Trip

Sudut Kampung Tridi


Dibalik Topeng Terdapat Wajah Yang Merana

Dalang KENTIR

About Hendri Uut Fahrullah

Terlahir sebagai Orang Jawa. Pengagum sekaligus penikmat Gunung Hutan. Antusias terhadap Sejarah, Budaya, dan Kuliner pinggir jalan. - Low Cost Adventure Enthusiast.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Translate

logo

Backpackermbois.com merupakan sebuah personal blog dari Hendri Uut F.

Isi atau konten di dalam blog ini merupakan sebuah orisinalitas pengalaman pribadi mengenai kegiatan bertualang.