
Travelling, siapa sih yang gak
suka dengan kegiatan ini, atau pertanyaannya harus diganti, siapa sih yang
belum suka kegiatan ini. Semua juga
pasti mau bingit jika ditawari atau diajak. Namun begitu, tidak semua orang juga
langsung mengatakan “Yes” ayo berangkat. Sebagian dari mereka banyak yang
berucap “Tergantung”. Yaa emang benar sih, untuk melakukan travelling kita
memang tak bisa lepas dari kata “Tergantung”. Tergantung waktunya, atau mungkin
tergantung dananya. Kalau aku sih tergantung keduanya, sulit mengatur waktu
apalagi dananya. Kalau udah seperti itu ya udah, terima aja, sabar menunggu
berkah datang. Hingga pada akhirnya berkah itupun kesampekan, yaitu liburan
gratis ke Bali bersama temen-temen kerja. Sebagai tenaga Hororer disebuah
sekolah tentu melakukan travelling sangatlah sulit, khususnya masalah dana. Oleh
karena itu kesempatan untuk menikmati Pulau Dewata kali ini tak aku sia-siakan.
Kenapa Liburan kali ini merupakan sebuah berkah?. Karena semua akomodasi telah
tercukupi oleh temen-temen kerja yang pemurah dan baik hati. Nikmat bener deh.
Kita liburan cuman sehari doang.
Karena jarak Banyuwangi dengan Bali lumayan deket, jadi kita berangkat sekitar
jam 10 malam. Transportasi yang kita pilih ialah Bis, alasannya ya supaya lebih
nyaman aja selama perjalanan. Dan memang benar, selama perjalanan yang aku rasa
sangat nyaman dengan bis yang kita tumpangi. Dengan ukuran bis yang tak terlalu
besar (bis tanggung / mini) tapi
suspensinya empuk banget man! (sepertinya Air susspension), selain itu di dalam
bis inipun kedap suara, jadi pas sopir melajukan kendaraannya yang lumayan
kencang pun penumpang tak terasa dibawa ngebut, nikmat bener deh ini bis. Jadi
buat warga Banyuwangi yang bingung mencari kendaraan travel buat rombongan ini
recommended banget. (Nama Bis Pariwisata Dastro, alamat Tegalsari - Banyuwangi).
Beberapa jam berjalan dengan bis
yang amat nyaman akhirnya nyampek juga di kota Denpasar sekitar jam 04.30.
Karena waktu masih subuh akhirnya kita memutuskan untuk menuju sebuah masjid,
untuk melaksanakan sholat subuh, persiapan mandi, dan sarapan pastinya. Masjid
yang kita tuju bernama “Masjid Muhammad” yang berada di Jalan Diponegoro. Gila
bener masjidnya, megah banget. Denger-denger ini masjid dibangun oleh seorang
juragan yang berasal dari Arab. So, arsitekturnya kental banget dengan masjid
Timur Tengah, khususnya Arab. Terdapat beberapa pintu yang amat besar dan
mewah. Menariknya dari masing-masing pintu di beri nama dari sahabat-sahabat
Nabi.
 |
| Pantai Mertasari |
Setelah semua selesai, badan bersih
dan perut kenyang usai sarapan kita bersiap untuk berangkat. Destinasi pertama
kita ialah pantai Mertasari. Di pantai Mertasari ini yang terlihat hutan bakau,
dan terdapat pula entah itu resort atau caffe yang mana untuk masuk area
tersebut dikenakan biaya sekitar 20K. Tapi jika tak ingin masuk ke area
(berbayar) tersebut kita masih bisa kok menikmati sisi pantai yang sebelahnya
tanpa dikenakan biaya. Sebenernya di pantai Mertasari ini aku juga bingung, apa
yang istimewa dari pantai ini, karena aku merasa pantai semacam ini juga banyak
terdapat di Banyuwangi, tapi ya entahlah, mungkin terdapat keistimewaan lain
yang tak aku lihat. Karena waktu masih pagi sekitar jam 07.00 wita banyak warga
yang tengah jogging di sekitar pantai, dan memang tempatnya sangat mendukung,
terdapat hutan bakau juga beberapa cemara pantai bikin udara pantai Mertasari
amat seger buat jogging pagi. Namun dari kita justru tidak bisa berbuat banyak,
apa yang harus kita lakukan di pantai ini.
Ya mungkin banyak dari kita merasa kalau ini pantai yaaa just so so gitu
lho.
 |
| Sisi Pantai Mertasari yang Berbayar |
Setelah merasa cukup menengok
pantai Mertasari kita memilih untuk melanjutkan ke sebuah pantai yang bernama Water Blow. Aku mengira ini
pantai ialah pantai dengan warna airnya yang amat biru dan jernih (like an
Maldives at google picture), karena waktu tour guide bilang Water Blow aku
menginterpretasikan Water Blue, kamvret ternyata salah. Sebelum menuju ke Water Blow ada
permintaan dari rombongan yaitu untuk perjalanannya lewat jalan tol aja, biar
lebih cepet sekaligus menikmati pemandangan laut dari atas tol. Pak sopirpun
mengarahkan bisnya melewati jalan tol yang katanya satu-satunya jalan tol yang
ada di Bali. Dari penjelasan tour guide ini merupakan tol laut terpanjang yang
ada di Indonesia, dan sepertinya Asia Tenggara. Dan jalan tol ini juga
merupakan sebuah kebanggaan dari masyarakat Bali khususnya, juga kebanggaan Indonesia
pada umumnya karena semua SDM yang berperan dalam pembangunnya ialah dari anak-anak dalam
negeri. Dan yang membanggakan lagi ini merupakan tol laut terpanjang namun
paling hemat, dan paling cepat dalam pembangunannya. Wihh memang bener-bener
membanggakan. Warga Bali sendiri menyebutnya sebagai Tol Tamiya, ya mungkin
karena jalurnya memang seperti lintasan mainan mobil legendaris, Tamiya. Dari
penjelasan tour guide pula bahwa sebenernya tol ini menghubungkan segi tiga
emasnya Bali, yaitu Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai, dan Benoa. So, dengan adanya
ini tol diharapkan untuk akses ke tiga tempat itu akan semakin lancar.
 |
| Meet Point penjemputan ke Water Blow yang Elite bingit |
Setelah beberapa menit akhirnya
kita nyampek di kawasan Water Blow. Sebelum masuk di pantai kita akan melewati
jalan yang hampir mirip dengan jalan di kawasan perumahan elite. Dalam hati sih
bilang ini wisata apaan. Ditambah destinasi sebelumnya yang biasa aja
menurutku, jadi gak berani untuk berekspetasi lebih. Akan tetapi ketika nyampek
pada suatu kawasan, setelah memasuki sebuah gapura, dalam hati barulah bisa
berucap Wow.. Amazing. Benar-benar tempat yang menakjubkan, keren banget.
Terdapat hamparan rumput hijau yang mulus dan juga luas. Ditambah terdapat
sebuah patung besar yang berada ditengah hamparan rumput benar-benar eksotis.
Tempatnya amat bersih dan terawat, memang gila bener ini tempat. Sembari
menikmati pemandangan yang amat menakjubkan ku arahkan kaki ini untuk
menyusrusi jalan ke arah pantai. Dan dari situ aku baru ngeh kalau ini tempat
bernama Water Blow, not Water Blue, anjay. Jadi kenapa dinamakan Water Blow,
karena terdapat pantai karang yang mempunyai hempasan ombak yang begitu
dahsyat. Sanking dahsyatnya ombak yang menghempas batuan karang menimbulkan airnya
itu naik tinggi man, dan karena air yang naik itu tinggi ditambah dengan efek
dari ombak yang pecah membuat siapapun yang ada disitu dibuat terpukau
melihatnya. Tak terasa udah beberapa jam kita menikmati Water Blow, dan
sebenernya sayang juga harus berpindah
dari ini tempat. Tapi Pantai Pandawa udah menanti nih. Yab, destinasi
selanjutnya ialah pantai Pandawa. Pantai pasir putih dengan background bukit
kapurnya yang tak kalah eksotisnya.
 |
| Pantai Pandawa dengan Pasir Putih dan Juga Bukit kapurnya yang bikin silau |
Karena baru pertama kali mau
mengintip Pantai Pandawa sebenernya akupun penasaran dan amat antusias, seperti
apa sih wujud asli ini pantai. Karena selama ini hanya melihat dari postingan
temen di
IG. Setelah bis melaju beberapa menit dari Water Blow akhirnya nyampek
di kawasan Pantai Pandawa, dan Wow.. Panas man!. Mata juga silau, karena
mungkin efek dari pantulan pasir putih ditambah dengan tebing disekeliling
pantai pandawa yang juga berwarna putih karena merupakan tebing batuan kapur.
Setelah turun dari bis ternyata rombongan berpencar mencari spot
sendiri-sendiri. Aku sebagai anak bawang pun sebenernya bingung, mau kearah
mana, dan mau ngapain. Ya untungnya sih ada Mas Satpam, Mas Eko yang masih
tersisa dari rombongan, jadi bisa lah dijadikan pathner. Mas Eko pernah bilang
kalau dia pernah bekerja di Bali beberapa waktu silam, jadi membuatnya hafal
dengan wilayah Bali. Dia pun mulai bercerita tentang pantai Pandawa beberapa
waktu silam. Dulu pantainya belum sekece saat ini, dulu untuk menuju pantai ini
harus menanjaki bukit, ekstrim dan perjuangan banget katanya. Namun yang
kusuka, penjelasannya ituloh, mbois ilakes. Detail, padet, dan menunjukan kalau
dia ini seperti masyarakat Bali banget. Lah ini sebetulnya kita gak perlu
repot-repot sewa tour guide kalau gitu.
Setelah berjalan beberapa meter
dari parkiran ternyata kita ketemu dengan rombongan Pak Boss (Kepala Sekolah),
Pak Samidi yang tengah berteduh di salah satu warung. Akhirnya aku dan Mas Eko
pun ikutan nimbrung. Memang kalau rejeki gak kemana, kita pun ditawari kopi
sama beliau. Ya udahlah langsung iya-kan aja, gak baik juga kan nolak rejeki.
Beberapa dari kita memesan kopi sachet yang rasanya udah pasti sama disemua
tempat. Namun ada yang menarik perhatianku ketika Mas Eko memesan Kopi Bali,
“Kopi Mbali mbak” pesennya kepada mbak-mbak penjualnya. Aku pun terprovokasi
dan akhirnya langsung ikut memesan Kopi Bali yang sama dipesan oleh Mas Eko.
Mendengar kata Kopi Bali yang langsung tergambar di pikiranku sih ini merupakan
Kopi Asli dari Bali, ya semacam kayak Kopi Kintamani yang mana itu diolah oleh
masyarakat lokal Bali. Namun, ehm, setelah kopinya siap dan disajikan kepada
kita akhinya aku baru “ngeh” seperti apa itu kopi Bali. Dari yang aku rasakan
kemarin ternyata Kopi Bali ya hampir sama tuh dengan kopi-kopi hitam lainnya,
yang membedakan hanya dari segi penyajiannya. Kopi Bali dalam penyajiannya
kurang lebih hanya setengah gelas aja atau tidak sampai satu gelas penuh. Dan
untuk buah kopinya gak harus dari Kintamani, nyatanya kemarin yang aku rasakan
bukan Kintamani yang punya taste keasam-asaman. Kayaknya sih kopi bubuk kemasan
gitu.
Setelah ngopi Pak Boss mengejak
kita jalan menuju arah pantai. Dan busyet, rame banget man!. Mungkin karena
hari libur ya. Sambil mengriyipkan mata karna silau kita mengamati suasana di sekitar. Ternyata banyak
pula bule yang hanya mengenakan bikini doang. Ya mungkin karena mereka
kegerahan ya, akhirnya buka baju. Dibawah terik panas siang itu tiba-tiba Pak
Boss berucap ngasih saran ke aku dan Mas Eko untuk berjalan ke arah pantai
sebelah kiri. Karena katanya disana adalah spot yang lebih manteb buat cuci
mata. Dengan pura-pura agak malu dalam hati berucap, “Ah, ini Pak Boss tau aja
yang kita cari. Atau jangan-jangan spot itu merupakan spot langganan Pak Boss
nih, kok hafal betul”. Setelah beberapa saat kemudian Pak Boss bilang mau cari
tempat berteduh, karena gak kuat sama panasnya. Setelah Pak Boss pergi, aku
sama Mas Eko pun saling bertatapan seakan udah paham dengan maksud kita
masing-masing. Yes, kita menuju spot yang direcommended sama Pak Boss tadi. Dan tara.. otak mesum kita pun mulai berakasi.
Satu persatu bule berbikini seksi pun tak lepas dari pengamatan kita. Wkwkwkwk
Belum puas menikmati beautiful
view kita harus bergegas untuk kembali kedalam bis. Karena perjalanan akan
segera dilanjutkan. Destinasi selanjutnya ialah Krisna, sebuah pusat oleh-oleh
khas Bali. Yang kita tuju ini adalah Krisna 3 yang berada di Sunset Road, Kuta.
Denger-denger sih disitu merupakan pusat oleh-oleh khas Bali yang komplit dan
harga yang relatif miring. Sebenernya sih gak ada niatan untuk beli oleh-oleh
disitu, karena sebelumnya udah pesen oleh-oleh di temen yang kebetulan punya
keluarga di Bali. Tapi sekedar untuk lihat-lihat gak ada salahnya. Sebelum
masuk kedalam Krisna kita terlebih dahulu ditempeli sticker, tapi gak
dijelaskan untuk apa fungsi dari sticker itu ditempel pada kita. Mungkin untuk
dikasih lihat ke kasir ketika kita hendak mau bayar, atau sebetulnya punya
fungsi lain, entahlah. Dan setelah kita masuk mulai terasa kalau ini market
sangat besar untuk seukuran toko oleh-oleh. Bahkan baru pertama kali ini aku
melihat pusat oleh-oleh sebesar dan sekomplit ini. Mulai dari kerajinan gantungan
kunci, baju, celana, kosmetik, sampai kelas berat macam lukisan dan patung pun
ada. Dan yang menarik buatku dibeberapa pojok market tersebut tersedianya stand
gerai JNE. Jadi memungkinkannya kita untuk mengirim langsung barang yang kita
beli tanpa harus mencari gerai jasa pengiriman diluar market. Atau bisa juga
jadi alternatif kita kalau tidak mau susah payah membawa belanjaan ketika
pulang nanti. Keren sih menurutku.
Aku lihat anggota rombongan
berpencar dan sedang sibuk memilih barang belanjaan, termasuk Mas Eko yang tadi
di Pantai Pandawa terlihat nyantai saat ini sedang antusias untuk memilih
sesuatu. Daripada celingukan kayak orang ilang akupun juga ikutan sok-sokan
untuk lihat-lihat barang yang ada. Ketika sedang mengamati kerajinan di spot
maianan tradisional, tiba-tiba ada cewek berwajah India datang dan bertanya. “What
this is”, “For what” sambil menyodorkan sebuah barang dari kayu hampir mirip
asbak namun memiliki lubang yang dalam dan berbentuk panjang. Awalnya sih aku
gak mengira kalau pertanyaan itu disampaikan kepadaku. Dan setelah sadar dia
bertanya kepadaku lalu aku bilang, “oh sorry, I dont know abaut that.” Dia pun
kembali bertanya, “This is for boil?”. Karena aku kurang yakin kalau itu barang
sebagai peralatan masak akhirnya akupun jawab, “No, that’s ashtray. That’s for
smoker u know”. Akhirnya itu cewek langsung mengiyakan dan setuju dengan
jawaban ngawurku. Lalu aku basa-basi kepadanya, tanya dari mana, sama siapa,
mau beli atau Cuma lihat-lihat doang. Dan setelah menjawab secukupnya lalu dia
pun berlalu dengan senyumannya, karena mungkin dia mengira aku orang yang aneh
dan akhirnya memilih untuk menghindar. Tak lama Mas Eko menemui ku dan bilang
harus kembali ke bis. Yeah, akhirnya melanjutkan ke destinasi selajutnya.
Melanjutkan ke destinasi yang sebenarnya (bukan wisata mall atau supermarket
lagi).
 |
| Berjubelnya Pengunjung di Tanah Lot |
Yang kita tuju kali ini adalah
Tanah Lot. Disini adalah ujung dari trip kita kali ini. Sedih juga rasanya
kalau mengingat ini adalah destinasi terakhir yang kita kunjungi hari ini.
Namun
rasa penasaran membuatku antusias
untuk melihat seperti apa sih tempat yang katanya terdapat pura di tengah
lautnya itu. Aku merasa bis melaju melewati jalan yang tak seperti biasanya.
Kali ini melewati pedesaan dan sesekali menemui hamparan sawah, bukan jalan
perkotaan seperti menuju destinasi-destinasi sebelumnya. Mas Eko bilang kalau
ini lewat jalur alternatif, jadi bakalan lebih deket ketimbang lewat jalan
provinsi (jalan Gilimanuk-Denpasar) yang mana jalan itu harus memutar. Dan aku
iyakan penjelasan Mas Eko tadi. Setelah beberapa puluh menit, sepertinya kurang
lebih 90menitan akhirnya kita nyampek di Tanah Lot. Sebelum masuk ke area pantai,
kita serombongan berfoto bersama di depan gapura gerbang masuk. Dan seperti
khas Traveller Indonesia lainnya pasti kita bakalan heboh dan
crowded.
Sampai-sampai wisatawan asing pun gak bisa masuk dan harus menunggu rombongan
kita selesai berfoto. Kasihan banget.
 |
| Banyak Wisatawan Lain yang Tak Bisa Masuk karena Menunggu Kita Berfoto |
Seperti kebayakan tempat-tempat
wisata yang pernah aku temui, sebelum masuk ke area pantai kita diarahkan
melalui jalan dengan deretan gerai oleh-oleh. Gerai-gerai tersebut kebanyakan
yang jagain ibuk-ibuk yang amat antusias menawarkan barangnya pada kita.
Padahal kebanyakan dari kita cuek-cuek aja. Namun beberapa diantara kita ada
juga yang terpincut untuk berhenti melihat dan akhirnya milih-milih barang
disalah satu gerai. Salah satu sebabnya ya karena ada tulisan nominal harga
yang murah bisa mendapatkan beberapa barang sekaligus. Lalu terdengar suara
pengeras dari pengelola wisata yang mengumumkan jika nanti akan digelar Tarian
Kecak. Tentu aku amat antusias dengar pengumuman itu. Karena selama ini tau Tarian
Kecak hanya dari menyaksikan di tv. Kali ini ingin meyaksikannya langsung seperti apa sih pertunjukan
live nya. Dan
akhirnya haruslah pupus harapan itu sesaat terdengar bahwa pertunjukan akan
dimulai sekitar pukul 18.00 wita, karena jelas gak memungkinkannya menunggu
hingga waktu tersebut. Ditambah dengan biaya sekitar 60K yang bisa dikatakan
mehong untuk sekelas Low Cost Traveller hanya untuk melihat sebuah pertunjukan tari.
Ternyata ketika pas nyampek di
area pantai cukuplah ramai pengunjungnya, bahkan disalah satu titik sempat
berjubel pula orang-orangnya. Terlihat beberapa bule tengah duduk ditangga yang
menghadap ke pantai dengan menikmati senja yang cukup romantis. Sementara disisi tepat dihadapan bule-bule itu duduk terlihat segerombolan wisatawan muda (lokal), yang kelihatannya seusia anak SMP atau
SMA tengah sibuk berfoto-foto atau menunjukan eksistensinya lewat kamera SLR
entry level. Beberapa diantara mereka juga terlihat bermusyawah yang
kelihatannya sibuk saling tunjuk untuk jadi delegasi ngomong guna mengajak
berfoto seorang bule. Bahkan aku sempat iseng, aku tanya kepada mereka. Siapa
sih bule itu, artis dari mana, artis apa, kok aku gak pernah lihat di youtube. Tentu
mereka pun hanya celengekan. Dan yang aku rasa, memang itulah khas dari wisatawan Indonesia
termasuk aku, lebih sibuk bereksistensi daripada menikmati spot wisata itu
sendiri. Dan misteri yang masih berkembang sampai saat ini, kenapa wisatawan lokal
termasuk aku terkadang kok antusias banget ingin mengajak bule berfoto bersama.
Padahal belum jelas loh bule itu siapa, artis atau bukan.
 |
| Salah Satu Store Polo yang ada di Tanah Lot, Harga tak Perlu di Ragukan Lagi |
Tak banyak yang aku nikmati
ketika berada di Tanah Lot, karena agak sempitnya area pantai tak sebanding
dengan jumlah pengunjung waktu itu. Bahkan aku tak menjumpai dimana keberadaan
yang katanya terdapat ular suci disana. Akhirnya akupun memutuskan untuk
kembali ke bis sekaligus menikmati suasana deretan gerai oleh-oleh yang kita lewati tadi, siapa
tau ada sesuatu yang menarik. Hingga nyampek dimana bis terparkir ternyata gak sesuatupun
yang aku dapat. Ya udahlah ngopi disalah satu warung sepertinya nikmat juga,
sembari nunggu rombongan yang lain kumpul. Pilihanpun tertuju kepada Kopi Bali.
Untuk memastikan bahwa Kopi Bali yang aku minum di Pantai Pandawa tadi
benar-benar Otentik Kopi Bali atau bukan. Ya sebagai perbandingan aja lah ya.
Karena aku masih penasaran akan wujud asli kopi Bali. Dan akhirnya aku harus
mengakui, bahwa ternyata Kopi Bali di Tanah Lot tak beda jauh seperti yang ada di Pantai
Pandawa. Terlihat sama dari segi ukuran penyajian, namun agak berbeda dari segi
rasa, karena menggunakan kopi sachet berbeda merk. Hingga saatnya tak tersadar
satu persatu rombongan udah kembali semua dan telah bersiap di dalam bis. Kita
harus menyudahi trip kali ini dan bersiap untuk pulang. Terlihat raub wajah
rombongan yang tampak berbeda-beda setelah berada di dalam bis, ada yang
menahan capek setelah berjalan seharian, ada pula yang sumringah melihat galeri
foto-foto di hape. Yang jelas trip kali ini amatlah menyenangkan dan
mengesankan, bukan hanya aku merasakan, sepertinya yang lain juga demikian.
Kesan yang aku dapat pada trip
kali ini ialah bukan masalah ngetrip kemana kita. Namun kebersamaan itulah yang
membuat trip kali ini yang amatlah menyenangkan dan memberi kesan. Karna menyatukan kebersamaan
seperti ini amatlah sulit. Meskipun terbiasa ngetrip sendirian atau solo travel,
trip kali ini menyadarkan jika ngetrip bersama orang-orang terdekat jauh lebih
fun. Semoga kebersamaan seperti ini dapat terus terjalin. Dan semoga juga
agenda travelling seperti
ini dapat
dikondisikan sebagai agenda rutin. Terimakasih bapak dan ibuk atas liburan
gratisnya.
 |
| Menikmati Kebersamaan dalam Liburan di Pantai Mertasari |
 |
| Sisi Sebelah Kiri dari Water Blow dengan View yang Super Kece, terlihat tuh Ada Kapal Pesiar di Laut |
 |
| Hally Pad ketika Menuju Water Blow |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar