Hi,Welcome!

Low Cost Adventure Enthusiast
Follow Me

Ngetrip Rame Rame ke Bali



By  Hendri Uut Fahrullah     Maret 08, 2018    Label: 
Travelling, siapa sih yang gak suka dengan kegiatan ini, atau pertanyaannya harus diganti, siapa sih yang belum suka kegiatan ini. Semua  juga pasti mau bingit jika ditawari atau diajak. Namun begitu, tidak semua orang juga langsung mengatakan “Yes” ayo berangkat. Sebagian dari mereka banyak yang berucap “Tergantung”. Yaa emang benar sih, untuk melakukan travelling kita memang tak bisa lepas dari kata “Tergantung”. Tergantung waktunya, atau mungkin tergantung dananya. Kalau aku sih tergantung keduanya, sulit mengatur waktu apalagi dananya. Kalau udah seperti itu ya udah, terima aja, sabar menunggu berkah datang. Hingga pada akhirnya berkah itupun kesampekan, yaitu liburan gratis ke Bali bersama temen-temen kerja. Sebagai tenaga Hororer disebuah sekolah tentu melakukan travelling sangatlah sulit, khususnya masalah dana. Oleh karena itu kesempatan untuk menikmati Pulau Dewata kali ini tak aku sia-siakan. Kenapa Liburan kali ini merupakan sebuah berkah?. Karena semua akomodasi telah tercukupi oleh temen-temen kerja yang pemurah dan baik hati. Nikmat bener deh.

Kita liburan cuman sehari doang. Karena jarak Banyuwangi dengan Bali lumayan deket, jadi kita berangkat sekitar jam 10 malam. Transportasi yang kita pilih ialah Bis, alasannya ya supaya lebih nyaman aja selama perjalanan. Dan memang benar, selama perjalanan yang aku rasa sangat nyaman dengan bis yang kita tumpangi. Dengan ukuran bis yang tak terlalu besar (bis tanggung / mini)  tapi suspensinya empuk banget man! (sepertinya Air susspension), selain itu di dalam bis inipun kedap suara, jadi pas sopir melajukan kendaraannya yang lumayan kencang pun penumpang tak terasa dibawa ngebut, nikmat bener deh ini bis. Jadi buat warga Banyuwangi yang bingung mencari kendaraan travel buat rombongan ini recommended banget.  (Nama Bis Pariwisata Dastro, alamat Tegalsari - Banyuwangi).

Beberapa jam berjalan dengan bis yang amat nyaman akhirnya nyampek juga di kota Denpasar sekitar jam 04.30. Karena waktu masih subuh akhirnya kita memutuskan untuk menuju sebuah masjid, untuk melaksanakan sholat subuh, persiapan mandi, dan sarapan pastinya. Masjid yang kita tuju bernama “Masjid Muhammad” yang berada di Jalan Diponegoro. Gila bener masjidnya, megah banget. Denger-denger ini masjid dibangun oleh seorang juragan yang berasal dari Arab. So, arsitekturnya kental banget dengan masjid Timur Tengah, khususnya Arab. Terdapat beberapa pintu yang amat besar dan mewah. Menariknya dari masing-masing pintu di beri nama dari sahabat-sahabat Nabi.
Pantai Mertasari
Setelah semua selesai, badan bersih dan perut kenyang usai sarapan kita bersiap untuk berangkat. Destinasi pertama kita ialah pantai Mertasari. Di pantai Mertasari ini yang terlihat hutan bakau, dan terdapat pula entah itu resort atau caffe yang mana untuk masuk area tersebut dikenakan biaya sekitar 20K. Tapi jika tak ingin masuk ke area (berbayar) tersebut kita masih bisa kok menikmati sisi pantai yang sebelahnya tanpa dikenakan biaya. Sebenernya di pantai Mertasari ini aku juga bingung, apa yang istimewa dari pantai ini, karena aku merasa pantai semacam ini juga banyak terdapat di Banyuwangi, tapi ya entahlah, mungkin terdapat keistimewaan lain yang tak aku lihat. Karena waktu masih pagi sekitar jam 07.00 wita banyak warga yang tengah jogging di sekitar pantai, dan memang tempatnya sangat mendukung, terdapat hutan bakau juga beberapa cemara pantai bikin udara pantai Mertasari amat seger buat jogging pagi. Namun dari kita justru tidak bisa berbuat banyak, apa yang harus kita lakukan di pantai ini.  Ya mungkin banyak dari kita merasa kalau ini pantai yaaa just so so gitu lho.
Sisi Pantai Mertasari yang Berbayar
Setelah merasa cukup menengok pantai Mertasari kita memilih untuk melanjutkan ke sebuah pantai yang bernama Water Blow. Aku mengira ini pantai ialah pantai dengan warna airnya yang amat biru dan jernih (like an Maldives at google picture), karena waktu tour guide bilang Water Blow aku menginterpretasikan Water Blue, kamvret ternyata salah. Sebelum menuju ke Water Blow ada permintaan dari rombongan yaitu untuk perjalanannya lewat jalan tol aja, biar lebih cepet sekaligus menikmati pemandangan laut dari atas tol. Pak sopirpun mengarahkan bisnya melewati jalan tol yang katanya satu-satunya jalan tol yang ada di Bali. Dari penjelasan tour guide ini merupakan tol laut terpanjang yang ada di Indonesia, dan sepertinya Asia Tenggara. Dan jalan tol ini juga merupakan sebuah kebanggaan dari masyarakat Bali khususnya, juga kebanggaan Indonesia pada umumnya karena semua SDM yang berperan dalam pembangunnya ialah dari anak-anak dalam negeri. Dan yang membanggakan lagi ini merupakan tol laut terpanjang namun paling hemat, dan paling cepat dalam pembangunannya. Wihh memang bener-bener membanggakan. Warga Bali sendiri menyebutnya sebagai Tol Tamiya, ya mungkin karena jalurnya memang seperti lintasan mainan mobil legendaris, Tamiya. Dari penjelasan tour guide pula bahwa sebenernya tol ini menghubungkan segi tiga emasnya Bali, yaitu Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai, dan Benoa. So, dengan adanya ini tol diharapkan untuk akses ke tiga tempat itu akan semakin lancar.
Meet Point penjemputan ke Water Blow yang Elite bingit
Setelah beberapa menit akhirnya kita nyampek di kawasan Water Blow. Sebelum masuk di pantai kita akan melewati jalan yang hampir mirip dengan jalan di kawasan perumahan elite. Dalam hati sih bilang ini wisata apaan. Ditambah destinasi sebelumnya yang biasa aja menurutku, jadi gak berani untuk berekspetasi lebih. Akan tetapi ketika nyampek pada suatu kawasan, setelah memasuki sebuah gapura, dalam hati barulah bisa berucap Wow.. Amazing. Benar-benar tempat yang menakjubkan, keren banget. Terdapat hamparan rumput hijau yang mulus dan juga luas. Ditambah terdapat sebuah patung besar yang berada ditengah hamparan rumput benar-benar eksotis. Tempatnya amat bersih dan terawat, memang gila bener ini tempat. Sembari menikmati pemandangan yang amat menakjubkan ku arahkan kaki ini untuk menyusrusi jalan ke arah pantai. Dan dari situ aku baru ngeh kalau ini tempat bernama Water Blow, not Water Blue, anjay. Jadi kenapa dinamakan Water Blow, karena terdapat pantai karang yang mempunyai hempasan ombak yang begitu dahsyat. Sanking dahsyatnya ombak yang menghempas batuan karang menimbulkan airnya itu naik tinggi man, dan karena air yang naik itu tinggi ditambah dengan efek dari ombak yang pecah membuat siapapun yang ada disitu dibuat terpukau melihatnya. Tak terasa udah beberapa jam kita menikmati Water Blow, dan sebenernya sayang  juga harus berpindah dari ini tempat. Tapi Pantai Pandawa udah menanti nih. Yab, destinasi selanjutnya ialah pantai Pandawa. Pantai pasir putih dengan background bukit kapurnya yang tak kalah eksotisnya.
Pantai Pandawa dengan Pasir Putih dan Juga Bukit kapurnya yang bikin silau
Karena baru pertama kali mau mengintip Pantai Pandawa sebenernya akupun penasaran dan amat antusias, seperti apa sih wujud asli ini pantai. Karena selama ini hanya melihat dari postingan temen di IG. Setelah bis melaju beberapa menit dari Water Blow akhirnya nyampek di kawasan Pantai Pandawa, dan Wow.. Panas man!. Mata juga silau, karena mungkin efek dari pantulan pasir putih ditambah dengan tebing disekeliling pantai pandawa yang juga berwarna putih karena merupakan tebing batuan kapur. Setelah turun dari bis ternyata rombongan berpencar mencari spot sendiri-sendiri. Aku sebagai anak bawang pun sebenernya bingung, mau kearah mana, dan mau ngapain. Ya untungnya sih ada Mas Satpam, Mas Eko yang masih tersisa dari rombongan, jadi bisa lah dijadikan pathner. Mas Eko pernah bilang kalau dia pernah bekerja di Bali beberapa waktu silam, jadi membuatnya hafal dengan wilayah Bali. Dia pun mulai bercerita tentang pantai Pandawa beberapa waktu silam. Dulu pantainya belum sekece saat ini, dulu untuk menuju pantai ini harus menanjaki bukit, ekstrim dan perjuangan banget katanya. Namun yang kusuka, penjelasannya ituloh, mbois ilakes. Detail, padet, dan menunjukan kalau dia ini seperti masyarakat Bali banget. Lah ini sebetulnya kita gak perlu repot-repot sewa tour guide kalau gitu.

Setelah berjalan beberapa meter dari parkiran ternyata kita ketemu dengan rombongan Pak Boss (Kepala Sekolah), Pak Samidi yang tengah berteduh di salah satu warung. Akhirnya aku dan Mas Eko pun ikutan nimbrung. Memang kalau rejeki gak kemana, kita pun ditawari kopi sama beliau. Ya udahlah langsung iya-kan aja, gak baik juga kan nolak rejeki. Beberapa dari kita memesan kopi sachet yang rasanya udah pasti sama disemua tempat. Namun ada yang menarik perhatianku ketika Mas Eko memesan Kopi Bali, “Kopi Mbali mbak” pesennya kepada mbak-mbak penjualnya. Aku pun terprovokasi dan akhirnya langsung ikut memesan Kopi Bali yang sama dipesan oleh Mas Eko. Mendengar kata Kopi Bali yang langsung tergambar di pikiranku sih ini merupakan Kopi Asli dari Bali, ya semacam kayak Kopi Kintamani yang mana itu diolah oleh masyarakat lokal Bali. Namun, ehm, setelah kopinya siap dan disajikan kepada kita akhinya aku baru “ngeh” seperti apa itu kopi Bali. Dari yang aku rasakan kemarin ternyata Kopi Bali ya hampir sama tuh dengan kopi-kopi hitam lainnya, yang membedakan hanya dari segi penyajiannya. Kopi Bali dalam penyajiannya kurang lebih hanya setengah gelas aja atau tidak sampai satu gelas penuh. Dan untuk buah kopinya gak harus dari Kintamani, nyatanya kemarin yang aku rasakan bukan Kintamani yang punya taste keasam-asaman. Kayaknya sih kopi bubuk kemasan gitu.

Setelah ngopi Pak Boss mengejak kita jalan menuju arah pantai. Dan busyet, rame banget man!. Mungkin karena hari libur ya. Sambil mengriyipkan mata karna silau kita  mengamati suasana di sekitar. Ternyata banyak pula bule yang hanya mengenakan bikini doang. Ya mungkin karena mereka kegerahan ya, akhirnya buka baju. Dibawah terik panas siang itu tiba-tiba Pak Boss berucap ngasih saran ke aku dan Mas Eko untuk berjalan ke arah pantai sebelah kiri. Karena katanya disana adalah spot yang lebih manteb buat cuci mata. Dengan pura-pura agak malu dalam hati berucap, “Ah, ini Pak Boss tau aja yang kita cari. Atau jangan-jangan spot itu merupakan spot langganan Pak Boss nih, kok hafal betul”. Setelah beberapa saat kemudian Pak Boss bilang mau cari tempat berteduh, karena gak kuat sama panasnya. Setelah Pak Boss pergi, aku sama Mas Eko pun saling bertatapan seakan udah paham dengan maksud kita masing-masing. Yes, kita menuju spot yang direcommended sama Pak Boss tadi.  Dan tara.. otak mesum kita pun mulai berakasi. Satu persatu bule berbikini seksi pun tak lepas dari pengamatan kita. Wkwkwkwk

Belum puas menikmati beautiful view kita harus bergegas untuk kembali kedalam bis. Karena perjalanan akan segera dilanjutkan. Destinasi selanjutnya ialah Krisna, sebuah pusat oleh-oleh khas Bali. Yang kita tuju ini adalah Krisna 3 yang berada di Sunset Road, Kuta. Denger-denger sih disitu merupakan pusat oleh-oleh khas Bali yang komplit dan harga yang relatif miring. Sebenernya sih gak ada niatan untuk beli oleh-oleh disitu, karena sebelumnya udah pesen oleh-oleh di temen yang kebetulan punya keluarga di Bali. Tapi sekedar untuk lihat-lihat gak ada salahnya. Sebelum masuk kedalam Krisna kita terlebih dahulu ditempeli sticker, tapi gak dijelaskan untuk apa fungsi dari sticker itu ditempel pada kita. Mungkin untuk dikasih lihat ke kasir ketika kita hendak mau bayar, atau sebetulnya punya fungsi lain, entahlah. Dan setelah kita masuk mulai terasa kalau ini market sangat besar untuk seukuran toko oleh-oleh. Bahkan baru pertama kali ini aku melihat pusat oleh-oleh sebesar dan sekomplit ini. Mulai dari kerajinan gantungan kunci, baju, celana, kosmetik, sampai kelas berat macam lukisan dan patung pun ada. Dan yang menarik buatku dibeberapa pojok market tersebut tersedianya stand gerai JNE. Jadi memungkinkannya kita untuk mengirim langsung barang yang kita beli tanpa harus mencari gerai jasa pengiriman diluar market. Atau bisa juga jadi alternatif kita kalau tidak mau susah payah membawa belanjaan ketika pulang nanti. Keren sih menurutku.

Aku lihat anggota rombongan berpencar dan sedang sibuk memilih barang belanjaan, termasuk Mas Eko yang tadi di Pantai Pandawa terlihat nyantai saat ini sedang antusias untuk memilih sesuatu. Daripada celingukan kayak orang ilang akupun juga ikutan sok-sokan untuk lihat-lihat barang yang ada. Ketika sedang mengamati kerajinan di spot maianan tradisional, tiba-tiba ada cewek berwajah India datang dan bertanya. “What this is”, “For what” sambil menyodorkan sebuah barang dari kayu hampir mirip asbak namun memiliki lubang yang dalam dan berbentuk panjang. Awalnya sih aku gak mengira kalau pertanyaan itu disampaikan kepadaku. Dan setelah sadar dia bertanya kepadaku lalu aku bilang, “oh sorry, I dont know abaut that.” Dia pun kembali bertanya, “This is for boil?”. Karena aku kurang yakin kalau itu barang sebagai peralatan masak akhirnya akupun jawab, “No, that’s ashtray. That’s for smoker u know”. Akhirnya itu cewek langsung mengiyakan dan setuju dengan jawaban ngawurku. Lalu aku basa-basi kepadanya, tanya dari mana, sama siapa, mau beli atau Cuma lihat-lihat doang. Dan setelah menjawab secukupnya lalu dia pun berlalu dengan senyumannya, karena mungkin dia mengira aku orang yang aneh dan akhirnya memilih untuk menghindar. Tak lama Mas Eko menemui ku dan bilang harus kembali ke bis. Yeah, akhirnya melanjutkan ke destinasi selajutnya. Melanjutkan ke destinasi yang sebenarnya (bukan wisata mall atau supermarket lagi).
Berjubelnya Pengunjung di Tanah Lot
Yang kita tuju kali ini adalah Tanah Lot. Disini adalah ujung dari trip kita kali ini. Sedih juga rasanya kalau mengingat ini adalah destinasi terakhir yang kita kunjungi hari ini. Namun  rasa penasaran membuatku antusias untuk melihat seperti apa sih tempat yang katanya terdapat pura di tengah lautnya itu. Aku merasa bis melaju melewati jalan yang tak seperti biasanya. Kali ini melewati pedesaan dan sesekali menemui hamparan sawah, bukan jalan perkotaan seperti menuju destinasi-destinasi sebelumnya. Mas Eko bilang kalau ini lewat jalur alternatif, jadi bakalan lebih deket ketimbang lewat jalan provinsi (jalan Gilimanuk-Denpasar) yang mana jalan itu harus memutar. Dan aku iyakan penjelasan Mas Eko tadi. Setelah beberapa puluh menit, sepertinya kurang lebih 90menitan akhirnya kita nyampek di Tanah Lot. Sebelum masuk ke area pantai, kita serombongan berfoto bersama di depan gapura gerbang masuk. Dan seperti khas Traveller Indonesia lainnya pasti kita bakalan heboh dan crowded. Sampai-sampai wisatawan asing pun gak bisa masuk dan harus menunggu rombongan kita selesai berfoto. Kasihan banget.
Banyak Wisatawan Lain yang Tak Bisa Masuk karena Menunggu Kita Berfoto
Seperti kebayakan tempat-tempat wisata yang pernah aku temui, sebelum masuk ke area pantai kita diarahkan melalui jalan dengan deretan gerai oleh-oleh. Gerai-gerai tersebut kebanyakan yang jagain ibuk-ibuk yang amat antusias menawarkan barangnya pada kita. Padahal kebanyakan dari kita cuek-cuek aja. Namun beberapa diantara kita ada juga yang terpincut untuk berhenti melihat dan akhirnya milih-milih barang disalah satu gerai. Salah satu sebabnya ya karena ada tulisan nominal harga yang murah bisa mendapatkan beberapa barang sekaligus. Lalu terdengar suara pengeras dari pengelola wisata yang mengumumkan jika nanti akan digelar Tarian Kecak. Tentu aku amat antusias dengar pengumuman itu. Karena selama ini tau Tarian Kecak hanya dari menyaksikan di tv. Kali ini ingin meyaksikannya langsung seperti apa sih pertunjukan live nya. Dan akhirnya haruslah pupus harapan itu sesaat terdengar bahwa pertunjukan akan dimulai sekitar pukul 18.00 wita, karena jelas gak memungkinkannya menunggu hingga waktu tersebut. Ditambah dengan biaya sekitar 60K yang bisa dikatakan mehong untuk sekelas Low Cost Traveller hanya untuk melihat sebuah pertunjukan tari.

Ternyata ketika pas nyampek di area pantai cukuplah ramai pengunjungnya, bahkan disalah satu titik sempat berjubel pula orang-orangnya. Terlihat beberapa bule tengah duduk ditangga yang menghadap ke pantai dengan menikmati senja yang cukup romantis. Sementara disisi tepat dihadapan bule-bule itu duduk terlihat segerombolan wisatawan muda (lokal), yang kelihatannya seusia anak SMP atau SMA tengah sibuk berfoto-foto atau menunjukan eksistensinya lewat kamera SLR entry level. Beberapa diantara mereka juga terlihat bermusyawah yang kelihatannya sibuk saling tunjuk untuk jadi delegasi ngomong guna mengajak berfoto seorang bule. Bahkan aku sempat iseng, aku tanya kepada mereka. Siapa sih bule itu, artis dari mana, artis apa, kok aku gak pernah lihat di youtube. Tentu mereka pun hanya celengekan. Dan yang aku rasa, memang itulah khas dari wisatawan Indonesia termasuk aku, lebih sibuk bereksistensi daripada menikmati spot wisata itu sendiri. Dan misteri yang masih berkembang sampai saat ini, kenapa wisatawan lokal termasuk aku terkadang kok antusias banget ingin mengajak bule berfoto bersama. Padahal belum jelas loh bule itu siapa, artis atau bukan.
Salah Satu Store Polo yang ada di Tanah Lot, Harga tak Perlu di Ragukan Lagi
Tak banyak yang aku nikmati ketika berada di Tanah Lot, karena agak sempitnya area pantai tak sebanding dengan jumlah pengunjung waktu itu. Bahkan aku tak menjumpai dimana keberadaan yang katanya terdapat ular suci disana. Akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke bis sekaligus menikmati suasana deretan gerai oleh-oleh yang kita lewati tadi, siapa tau ada sesuatu yang menarik. Hingga nyampek dimana bis terparkir ternyata gak sesuatupun yang aku dapat. Ya udahlah ngopi disalah satu warung sepertinya nikmat juga, sembari nunggu rombongan yang lain kumpul. Pilihanpun tertuju kepada Kopi Bali. Untuk memastikan bahwa Kopi Bali yang aku minum di Pantai Pandawa tadi benar-benar Otentik Kopi Bali atau bukan. Ya sebagai perbandingan aja lah ya. Karena aku masih penasaran akan wujud asli kopi Bali. Dan akhirnya aku harus mengakui, bahwa ternyata Kopi Bali di Tanah Lot tak beda jauh seperti yang ada di Pantai Pandawa. Terlihat sama dari segi ukuran penyajian, namun agak berbeda dari segi rasa, karena menggunakan kopi sachet berbeda merk. Hingga saatnya tak tersadar satu persatu rombongan udah kembali semua dan telah bersiap di dalam bis. Kita harus menyudahi trip kali ini dan bersiap untuk pulang. Terlihat raub wajah rombongan yang tampak berbeda-beda setelah berada di dalam bis, ada yang menahan capek setelah berjalan seharian, ada pula yang sumringah melihat galeri foto-foto di hape. Yang jelas trip kali ini amatlah menyenangkan dan mengesankan, bukan hanya aku merasakan, sepertinya yang lain juga demikian.

Kesan yang aku dapat pada trip kali ini ialah bukan masalah ngetrip kemana kita. Namun kebersamaan itulah yang membuat trip kali ini yang amatlah menyenangkan dan memberi kesan. Karna menyatukan kebersamaan seperti ini amatlah sulit. Meskipun terbiasa ngetrip sendirian atau solo travel, trip kali ini menyadarkan jika ngetrip bersama orang-orang terdekat jauh lebih fun. Semoga kebersamaan seperti ini dapat terus terjalin. Dan semoga juga agenda travelling seperti  ini dapat dikondisikan sebagai agenda rutin. Terimakasih bapak dan ibuk atas liburan gratisnya.

Menikmati Kebersamaan dalam Liburan di Pantai Mertasari

Sisi Sebelah Kiri dari Water Blow dengan View yang Super Kece, terlihat tuh Ada Kapal Pesiar di Laut

Hally Pad ketika Menuju Water Blow


About Hendri Uut Fahrullah

Terlahir sebagai Orang Jawa. Pengagum sekaligus penikmat Gunung Hutan. Antusias terhadap Sejarah, Budaya, dan Kuliner pinggir jalan. - Low Cost Adventure Enthusiast.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Translate

logo

Backpackermbois.com merupakan sebuah personal blog dari Hendri Uut F.

Isi atau konten di dalam blog ini merupakan sebuah orisinalitas pengalaman pribadi mengenai kegiatan bertualang.