Hi,Welcome!

Low Cost Adventure Enthusiast
Follow Me

Hi good people, buat kalian yang mencari review atau yang akan membeli Celana Halmahera dari Artre Outgear dan ingin tau seperti apa kualitasnya, berikut pengalaman dan pendapatku mengenai produk tersebut. Sebelumnya buat kalian yang belum tau bahwa Atre Outgear adalah apparel outdoorgear made in Indonesia, tepatnya Bandung. Mereka menciptakan produk-produknya dengan menekankan 3 filosofi, yaitu Comfort (Kenyamanan), Function (Fungsionalitas), dan Aethestic (Estetika). Karena mereka berharap apparelnya tersebut dapat mendukung para petualang untuk melakukan kegiatannya dengan nyaman tanpa harus mengkhawatirkan apakah pakaiannya akan tahan lama atau tidak, but without forgetting the aethestic aspect.

Tampak samping Halmahera Light Khaki

Aku mendapatkan Celana  Halmahera ini dari Tokopedia beberapa bulan yang lalu (akhir tahun 2017) dengan harga 148k, karena memang pada waktu itu sedang ada diskon akhir tahun untuk semua produk Artre. Untuk saat ini sih sepertinya udah kembali ke harga normal yaitu 228k via lapak Tokopedia (http://tokopedia.com/artre), begitu pula via websitenya (http://artreoutgear.id) yaitu sama 228k.

Awal mengetahui apparel Artre dari Instagram (@artreoutgear), disitu postingan dari produk-produk Artre menurutku keren banget. Banyak pula testi dari pengguna apparel Artre yang kece-kece (khususnya celana cargonya, baik seri Halmahera maupun seri Samosir), so, membuatku kepincut untuk memilikinya. Oh ya, sebelumnya aku juga udah mempunyai produk Artre yang lain, Chore Jacket yang menurutku kualitasnya gak mengecewakan. Berbekal dari pengalaman tersebut sepertinya memang harus nih memiliki Celana Halmahera ini, apalagi mumpung sedang diskon juga waktu itu. Dengan deskripsi produk , “celana lapangan modern yang durable dan nyaman tanpa melupakan estetika, terjangkau tanpa mengorbankan kualitas”, memang ini adalah celana yang benar-benar aku butuhkan dalam menemani kegiatan dolanku. Karena beberapa kali dalam berburu celana outdoor gak ada yang sesuai dengan harapan, problemnya antara desain yang komprang, potongan saku yang lebay, atau kalaupun menemukan desain  yang pas harganyapun juga passsti mahal.

Terasa comfort untuk muncak, terasa ringan

Lalu, seperti apa sih perasaannya setelah memutuskan checkout celana Artre  seri Halmahera ini?. Yang pertama dari segi package, jujur sebenernya aku agak kecewa terhadap package nya, karena aku berekspetasi ketika orderan itu datang aku akan melakukan unboxing. Dan taraaa..  ternyata barang orderan di kirim hanya dikemas apa adanya, yaitu dengan plastik transparan plus secarik kertas bertuliskan bulpoin tentang invoice pengiriman. Dan itu menurutku kurang mbois. Package seperti itu juga sama ketika aku mengorder Chore Jacket sebelumnya. Tapi yaudah lah, apalah arti package, hmmm. Itu dari segi package ya, lalu gimana dari segi fisik produknya?. Kalau untuk kualitas barangnya menurutku ini memang bener-bener jempolan, gak perlu diragukan lagi deh kalau produk-produk Artre memang kece. Barangnya berkualitas, pokoknya sesuai banget dengan ekspetasi dan juga deskripsi yang ada di lapak maupun di IG. Berbahan kain ripstop, dan jahitannya rapi. Desainnya juga gak berlebihan dan gak lebay. Jika kalian biasa membeli celana gunung yang kekomprangan atau kegedean, itu gak nampak sama sekali pada celana Halmahera ini man!.

So, kesimpulan dari celana Halmahera ini menurutku memuaskan. Mulai dari segi bahan, desain, hingga jahitan menurutku gak ada yang mengecewakan. Semua bener-bener sesuai dengan harapan. Hanya saja kelemahan ada pada packaging, menurutku kalaupun hanya dikemas dalam sebuah plastik akan lebih baik jika kemasan plastik tersebut berwarna hitam bukan transparan atau putih, supaya ketika orderan tersebut datang konsumen merasa surprise atau untuk menjaga ekspetasinya. Atau, akan lebih baik lagi jika disetiap orderan kita mendapatkan sticker. Selanjutnya, karena ini celana berbahan kain ripstop tentu ini sangat mendukung untuk kegiatan outdoor di hutan maupun di gunung karena sifatnya yang kuat dan quickdry. Namun.. menurutku celana berbahan kain ripstop sepertinya kurang pas jika digunakan citytour, gak tau kenapa mungkin karena estetikanya. So, jika kalian ingin menggunakan atau lebih banyak beraktivitas di perkotaan menurutku akan lebih baik jika menjatuhkan pilihan pada seri Borneo yang berbahan kain Cotton Twill (kainnya Halus) dan mempunyai potongan atau desain yang sama sekali gak jauh berbeda dengan seri Halmahera. Well, itu hanya pendapat dan pengalamanku aja mengenai celana PDL Halmahera dari apparel Artre Outgear. Terimakasih teman-teman yang budiman telah menyempatkan waktunya untuk melihat blog ini.

Celana Artre seri Borneo, berbahan kain Twill Cotten (Kainnya Halus) namun memiliki desain yang sama dengan seri Halmahera


Melakukan trip ditengah rasa kekecewaan yang mendera merupakan sebuah dilema tersendiri bagiku. Hal itulah yang tengah aku lakukan setelah menerima kenyataan bahwa gagal dalam seleksi masuk kerja di salah satu kampus di Kota Malang. Aku palingkan perasaan kekecewaan ini dengan berjalan-jalan mengintip sudut Kota Malang yang mbois.

Awalnya aku cukup antusias ketika akan mengikuti sebuah tes di salah satu kampus Kota Malang. Sebelum hari keberangkatan aku mencoba buka-buka IG, untuk mencari kontak dari temen-temenku yang masih stay di Malang. Udah pasti maksud dan tujuanku tersebut ialah untuk mencari tumpangan gratis. Hingga akhirnya pilihanpun jatuh kepada seorang adik kelas kala SMA dulu, Haffid. Dan sebenernya aku baru tau juga kalau ternyata dia barusan lulus dari salah satu kampus negeri di Malang, dan kebetulan dia belum punya niatan untuk pulang ke kampung halaman.

Perjalanan aku awali sekitar pukul 06.00 pagi dari terminal Jajag. Terpaksa perjalanan kali ini aku lakukan dengan menggunakan bis karena yang sedianya ingin menggunakan kereta namun kehabisan tiket. Bis yang aku tumpangi ialah Basudewa dari PO. Harapan Baru. Bisnya keren, bersih, crewnya juga friendly, pokonya membuat kita nyaman, overall bagus lah untuk sekelas bis umum. Harga tiket untuk perjalanan dari Terminal Jajag sampai Terminal Arjosari Malang sebesar 65K, terpaut 3K lebih mahal dari kereta yang hanya 62K, tapi yaudah lah.  Perjalananku kali ini terasa agak lama, yaitu sekitar sembilan jam perjalanan, karena nyampek terminal Arjosari sekitar pukul 03.00 sore. Setelah turun dari bis aku langsung menghubungi Haffid yang berjanji akan menjemput di terminal. Sambil menunggu dia datang aku berkeliling mencari pintu keluar terminal karena tak ingin merepotkannya untuk menjemputku di area dalam terminal, dan sebenernya merupakan bentuk antisipasi agar dia gak dituduh Ojol seperti yang aku alami beberapa waktu lalu di stasiun Jember. Dalam berkeliling mencari pintu keluar tersebut beberapa sopir angkot berteriak menawarkan angkot ke Tumpang, mungkin dikiranya aku mau Bromo. Selang beberapa menit akhirnya Haffid datang, dan yang bikin aku “ketar-ketir” ternyata dia udah menunggu di parkiran atau tepatnya depan pintu masuk terminal. Akupun memastikan kepadanya, memang gak papa penjemput masuk sampai area sini. “Ogak popo mas”, katanya dengan mantab. Yaudah syukurlah.

Setelah bersalaman diapun memberikan helm yang dibawanya lalu kemudian mengajakku menuju ke kontrakannya. Tapi sebelumnya aku meminta kepadanya untuk dianterin cari tempat makan, maklum udah hampir seharian didalam bis menahan lapar. Lantas diapun mengantarkanku ke sebuah warung ala-ala anak kosan, yang katanya sih ini merupakan warung langganannya dulu. Dan “pueehh” manteb bener ini warung, karena selain harganya murah disini kita dapat mengambil sendiri nasi dan lauknya bebas namun bayarnya tetap sama, cuman 10K man. Setelah kenyang kitapun langsung menuju ke kontrakan Haffid yang berada di Merjosari. Ternyata di kontrakannya tersebut ada beberapa temennya yang juga ikut mengontrak bersama, jadi satu rumah di kontrak rame-rame. Setelah bersalaman, berkenalan,  dan meminta ijin kepada temen-temennya Haffid tersebut akupun memutuskan untuk langsung beristirahat. Yah, untuk recovery tenaga setelah perjalanan hampir seharian sekaligus mempersiapkan mental untuk tes keesokan harinya.

Sebelum pukul 04.00 pagi aku terbangun lebih awal, mungkin karena terlalu excited dengan tes yang akan aku hadapi nanti. Seusai ibadah shubuh aku keluar kontrakan. Niatnya sih mau jalan-jalan sekaligus melihat pergeliatan masyarakat kota Malang dikala pagi. Berjalan kaki dari Merjosari hingga akhirnya tak terasa nyampek di depan kampus Unisma. Tapi disitu momen kamvret mulai muncul, perut mules dan aku bingung harus BAB dimana. Ditengah kebingungan tersebut akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke sebuah Pasar Modern yang terletak tepat disebelah kirinya kampus Unisma. Sempat bertanya kebeberapa tukang parkir dan penjual di dalam pasar hingga akhirnya menemukan toilet yang berada di pojok lantai 2 pasar. Akhirnya.. lega juga rasanya, hmmm. Lalu akupun turun dari lantai 2, namun kemudian pandangan tertuju pada deretan warung makan yang berada disisi pojok pasar, atau bersebelahan dengan parkir dalam pasar yang berada dilantai dasar. Sarapan di salah satu warung kayaknya boleh juga tuh, sekaligus bisa menghemat waktu untuk persiapan berangkat ke tempat tes nanti. Harganya lumayan sih, namun agak lebih mahal jika dibandingkan dengan warung langganannya Haffid tadi, yaitu terapaut 5K lebih mahal. Seusai sarapan akupun langsung bergegas kembali ke kontrakan Haffid, untuk persiapan perlengkapan, mandi, lalu kemudian berangkat.

Dan lagi-lagi aku merepotkan Haffid, untuk datang ke lokasi tes aku diantar olehnya. Gak tau harus bilang gimana padanya, baik banget. Setelah nyampek di lokasi tes, yaitu di sebuah kampus  yang berada di Jalan Ijen Besar, akupun bingung harus menuju kemana karena areanya yang cukup besar. Namun untunglah panitia menyediakan papan denah yang menunjukan kelas-kelas atau ruangan tempat ujian. Setelah melihat papan denah tersebut tanpa buang waktu akupun langsung menuju ke ruangan seperti yang tertera di kartu tanda pesertaku. Hingga akhirnya tak sengaja berjumpalah dengan seorang kawan baru. Awalnya sih sedikit canggung ketika bertanya, kemudian berkenalan dan ngobrol, karena aku pikir (mungkin dia juga merasa) kalau kita rival :D . Dia adalah Mas Yoga, yang datang dari Pekalongan. Kita ngobrol sedikit tentang basic kita masing-masing, dan ternyata kita berbeda program, juga bukan rival dalam tes kali ini. Dalam hati sebenernya berucap, “Alhamdulillah.. kalau dia bukan sainganku”. Hingga setelah tes usaipun obrolan kita masih berlanjut. Mulai dari curhatanku mengenai soal tes yang susahnya minta ampun, lalu keluh kesahku atas kegagalan dalam tes barusan, dan juga masukan darinya atas pengalamannya dalam menghadapi tes semacam itu tadi. Hingga akhirnya dari obrolan tersebut kita sama-sama tau kalau ternyata kita sama-sama penikmat dolan. Tentu obrolan kita makin seru ketika membahas ngetrip atau dolan. Dari pembahasan ngetrip tersebut kemudian akupun mengajak Mas Yoga untuk berkeliling Kota Malang, tujuannya pun jelas, apalagi kalau bukan untuk pemaling luka dalam hati akibat kegagalan dalam tes tadi. Dan ternyata Mas Yoga pun menyetujuinya. Namun permasalahannya kini ialah kita sama-sama bingung, kita mau kemana.. Karena aku suka banget dengan musium dan sepertinya ada banyak Musium di Kota Malang, akupun menawarkan ke Mas Yoga, “Gimana kalau kita ke Musium aja mas?”. Lagi-lagi dia pun langsung menyetujui tawaranku tersebut. Setelah bergoogling sebentar, mencari Musium apa aja yang ada di Kota Malang, akhirnya pilihanpun jatuh ke Musium Musik Indonesia.

Setelah Ibadah Dzuhur kita langsung menuju ke Musium Musik Indonesia yang berada dijalan Nusakambangan menggunakan Taksol. Namun sebelum itu Mas Yoga bilang kalau nanti seorang temennya yang ada di Malang akan menemuinya. Yaudah deh mantab, bisa kita jadiin tourguide nanti untuk destinasi selanjutnya setelah dari Musium Musik Indonesia. Akhirnya Taksol orderan kita datang, pak sopirnya tanya mau kemana kita, sontak kitapun mengucapkan ke Musium Musik Indonesia secara bersamaan. Namun sepertinya Pak Sopirnya masih agak bingung dengan tujuan kita kali ini, karena beliau bilang kalau sebenernya beliau adalah seorang pendatang. Waduh.. Pak sopirnya aja bingung apalagi kita yang tak mengetahui sama sekali wilayah Kota Malang. Dengan berandalkan Google Map kitapun diantar ke tujuan orderan kita, yaitu jalan Nusakambangan tempat dimana Musium Musik Indonesia berada. Namun apa yang terjadi, ternyata kita sempat salah alamat, kita diantarkan ke sebuah tempat Kursus musik, yang mana sama-sama mempunyai nama “Musik Indonesia”. Kita pun komplain ke Pak Sopirnya, “Lho pak, ini kan bukan musium. Masak Musium bangunannya kayak gitu”. Pak Sopirnyapun juga bingung, namun beliau tetap memastikan kepada kita bahwa alamat yang diarahkan oleh Google Map memang mengarahkan ke alamat itu. Ditengah kebingungan kita kali ini Pak Sopirpun berinisiatif bertanya kepada seorang tukang parkir. Dan ditujukanlah ke alamat Musium Musik Indonesia yang sebenarnya oleh Bapak tukang parkir tadi. Alhamdulillah.

Setelah nyampek di depan Musium Musik Indonesia kita sempat kembali bingung, apakah Musium sedang buka ataukah sedang ditutup, karena terdapat janur melengkung (penjor) tepat di gerbangnya. Namun karena kita udah terlanjur nyampek situ akhirnya kita mencari  tau akan kepastian tersebut. Dan kebetulan ada salah seorang opa-opa yang habis keluar dari dalam gedung, lalu menginformasikan kepada kita bahwa Musium sedang buka, dan penjor tersebut adalah bekas dari sebuah acara orang punya hajat yang menyewa gedung lantai dasar Musium. Untuk koleksi Musiumnya berada di lantai atas. Setelah mendengar informasi dari Opa tersebut kita pun bergegas masuk gedung dan menuju lantai atas (lantai 2) tepat koleksi-koleksi Musium tersimpan. Pertama kali melihat koleksi-koleksi di Musium Musik Indonesia yang terbayang dibenak ialah toko kaset, karena banyaknya kaset yang berjajar dan tersusun rapi di rak. Tak lama kita disambut oleh om om berpakaian nyenterik. Oh, ternyata beliau adalah founder dari Musium Musik Indonesia, om Hengky (kalau gak keliru namanya), beserta mas mas yang sayang banget aku lupa namanya. Oh ya, untuk tiket masuk Musium Musik Indonesia ialah sebesar 5K, dan itupun kita udah dapet sticker. Keren banget.
Koleksi Kaset Musium Musik Indonesia

Tak seperti kebanyakan musium pada umumnya disini kita tak hanya sekedar melihat-lihat koleksi yang ada, namun kita dipersilahkan untuk memutar atau mendengar koleksi-koleksi tersebut. Dengan ramah mas nya tadi membantu memutarkan salah satu kaset yang aku pilih pada sebuah alat putar, semacam walkman gitu kayaknya. Salah satu keistimewaan dari Musium Musik Indonesia dan membuat kita nyaman berada disitu ialah sikap orang-orangnya, baik Om Hengky maupun masnya bersikap humble dan friendly. Bahkan begitu beliau-beliau tau aku punya basic perpustakaan kita sempat sharing mengenai pengolahan koleksi dan temu balik informasi yang ada di Perpustakaan dengan yang ada di musium. Ditengah obrolan sharing kita tersebut tiba-tiba temen Mas Yoga yang katanya mau menemui tadi datang. Namanya Mbak Happy, seperti namanya dari awal ketika kita kenalan memang dia seorang cewek yang bersikap Happy. Dia datang agak jauh, yaitu dari Malang selatan untuk menemui Mas Yoga. Cieee.. perjuangan banget. Setelah Mbak Happy datang barulah kita bertiga menyusun rencana, enaknya mau kemana nih. Mbak Happy sih ngasih rekomendasi ke kita di daerah Batu, karena banyak spot wisata mbois disana. Namun dari Mas Yoga menolaknya, karena selain agak jauh dari Kota Malang dia harus kembali ke Terminal Arjosari setelah magrib nanti, ini jelas nggak memungkinkan. Lalu akupun usul ke Musium Brawijaya. Namun ternyata setelah cek di google Musium Brawijaya akan segera tutup sekitar pukul 04.00 sore. “Lah terus kita mau kemana.. Enake menyang endi..”, kurang lebih seperti itu kata yang terus terlempar berulang-berulang diantara kita bertiga. Hingga akhirnya Mbak Happy ngasih rekomendasi alternatif, “Gimana kalau ke Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni Jodipan. Nanti kita bisa naik jembatan kaca. Jaraknya juga gak jauh sih dari sini”. Tanpa buang waktu aku langsung setuju,”Ayo budal!”. Jujur, alasanku langsung setuju dengan rekomendasi Mbak Happy ini ialah karena penasaran dengan jembatan kaca yang dikatakannya tadi. Apakah benar ini seperti jembatan kaca yang ekstrim kayak di tv-tv itu.
Kampung Tridi Jodipan Malang

Kita bertigapun bergegas menuju ke Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni, tepatnya di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing. Mas Yoga berboncengan dengan Mbak Happy, sedangkan aku mengorder Ojol. Setelah nyampek di Jodipan baru aku tau yang ternyata letaknya gak jauh dari stasiun Kota Baru Malang. Selanjutnya blusukan kita mulai dari Kampung Tridi, baru kemudian menuju Kampung Warna-warni. Untuk tiket masuknya kita dikenakan harga 2,5K / perorang, namun yang unik ialah tiket tersebut bukanlah berbentuk kertas, namun berbentuk gantungan kunci yang unyu bingit. Sepertinya hasil dari kerajinan masyarakat setempat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dalam germas darwis.  Lalu kesan pertama saat masuk kampung ini ialah teringat sebuah film yang di bintangi Vin Diesel yang bersetting di Brazil, yaitu perumahan rapat dengan cat warna-warni ditambah lukisan 3D yang tampak seperti nyata. Dan serpertinya ini pas banget buat traveller yang doyan banget bereksistensi.
Salah Satu Lukisan di Kampung Tridi yang Kece

Kita juga beruntung, karena sempat menyaksikan proses pembuatan lukisan 3D yang superkece disalahsatu sudut kampung tersebut. Dilihat dari prosesnya sepertinya lukisan tersebut mirip dengan pembuatan lukisan dengan teknik airbrush. Tak lama berjalan setelah melihat proses pembuatan lukisan tersebut kita menaiki tangga kecil dipinggir sungai. Oh, ini toh ternyata jembatan kaca yang diceritain Mbak Happy tadi. Kesan pertama saat menaiki jembatan tersebut biasa aja, gak se-ekstrim seperti ekspetasiku ketika Mbak Happy bercerita tadi. Karena efek transparan yang dimbulkan lantai kaca jembatan menurutku masih kurang greget. Hal menarik yang dapat dilakukan ketika berada di jembatan tersebut ialah apalagi kalau bukan bernarsisria. Dari atas jembatan tersebut kita akan mendapatkan latar foto yang kece, yaitu deretan perumahan padat yang nampak seperti bertumpuk dengan aksen tembok dan genteng yang berwarna-warni. Namun momen spesial yang banyak ditunggu pengunjung ialah ketika terdapat kereta melintas di jembatan perlintasan yang terletak di atas kampung. Suwer, itu merupakan momen yang Mbois Ilakes Sam!. Pantas aja kalau jembatan tersebut merupakan spot terfavorit pengunjung. Lalu karena kapasitas jembatan dibatasi  beberapa orang, sedangkan pengunjung lain jumlahnya semakin bertambah kitapun memutuskan turun untuk selanjutnya menuju ke Kampung Warna-warni yang secara umum tak jauh berbeda dengan Kampung Tridi, yaitu tembok dan genteng warga yang di cat warna-warni dan berlukis gambar sebagai ciri khas dan daya tariknya. Diantara kita bertiga nampaknya hanya aku yang berantusias untuk narsis, selain itu yang kita lakukan hanya mengobrol santai sambil melihat keasyikan beberapa anak kecil yang sedang bermain di pinggir sungai.
Jembatan Kaca Menjadi Spot Terfavorit Pengunjung

Hingga akhirnya tak terasa sang mentaripun mulai tenggelam ke peraduannya, dan membuat Mas Yoga harus segera bergegas menuju ke Terminal Arjosari. Pertanda bahwa kita akan berpisah dan mengakhiri trip kali ini. Kita pun saling berpamitan, saling berpesan semoga bisa ketemu dan ngetrip bersama kembali. Tak lupa aku juga memprovokasi mereka untuk datang ke Banyuwangi. Di Banyuwangi tak kalah kece loh wisatanya, khususnya wisata alamnya. Dan sepertinya mereka menunjukan antusias ketika aku memprovokasinya. Well, saatnya kita berpisah, kembali ke asal kita masing-masing. Mas Yoga kembali ke asalnya, Pekalongan. Begitu pula dengan Mbak Happy, tour guide kece kita kali ini juga kembali pulang kerumahnya di daerah Malang selatan. Sedangkan aku kembali ke kontrakan Haffid, karena masih harus numpang satu malam untuk kemudian berpulang keesokan harinya. Berpulang dengan rasa kecewa yang mendera. Berpulang dengan harapan yang patah yang sulit aku terima kenyataannya. Namun, bukankah kita harus belajar dari sebuah kegagalan. Seharusnya iya. Karena bisa jadi Tuhan punya rencana lain (Takdir) yang tak kita ketahui. Bisa jadi rencana-Nya itu jauh lebih pantas dari apa yang kita harapkan, Insya’Alloh, semoga aja.

See You On The Next Trip

Sudut Kampung Tridi


Dibalik Topeng Terdapat Wajah Yang Merana

Dalang KENTIR
Travelling, siapa sih yang gak suka dengan kegiatan ini, atau pertanyaannya harus diganti, siapa sih yang belum suka kegiatan ini. Semua  juga pasti mau bingit jika ditawari atau diajak. Namun begitu, tidak semua orang juga langsung mengatakan “Yes” ayo berangkat. Sebagian dari mereka banyak yang berucap “Tergantung”. Yaa emang benar sih, untuk melakukan travelling kita memang tak bisa lepas dari kata “Tergantung”. Tergantung waktunya, atau mungkin tergantung dananya. Kalau aku sih tergantung keduanya, sulit mengatur waktu apalagi dananya. Kalau udah seperti itu ya udah, terima aja, sabar menunggu berkah datang. Hingga pada akhirnya berkah itupun kesampekan, yaitu liburan gratis ke Bali bersama temen-temen kerja. Sebagai tenaga Hororer disebuah sekolah tentu melakukan travelling sangatlah sulit, khususnya masalah dana. Oleh karena itu kesempatan untuk menikmati Pulau Dewata kali ini tak aku sia-siakan. Kenapa Liburan kali ini merupakan sebuah berkah?. Karena semua akomodasi telah tercukupi oleh temen-temen kerja yang pemurah dan baik hati. Nikmat bener deh.

Kita liburan cuman sehari doang. Karena jarak Banyuwangi dengan Bali lumayan deket, jadi kita berangkat sekitar jam 10 malam. Transportasi yang kita pilih ialah Bis, alasannya ya supaya lebih nyaman aja selama perjalanan. Dan memang benar, selama perjalanan yang aku rasa sangat nyaman dengan bis yang kita tumpangi. Dengan ukuran bis yang tak terlalu besar (bis tanggung / mini)  tapi suspensinya empuk banget man! (sepertinya Air susspension), selain itu di dalam bis inipun kedap suara, jadi pas sopir melajukan kendaraannya yang lumayan kencang pun penumpang tak terasa dibawa ngebut, nikmat bener deh ini bis. Jadi buat warga Banyuwangi yang bingung mencari kendaraan travel buat rombongan ini recommended banget.  (Nama Bis Pariwisata Dastro, alamat Tegalsari - Banyuwangi).

Beberapa jam berjalan dengan bis yang amat nyaman akhirnya nyampek juga di kota Denpasar sekitar jam 04.30. Karena waktu masih subuh akhirnya kita memutuskan untuk menuju sebuah masjid, untuk melaksanakan sholat subuh, persiapan mandi, dan sarapan pastinya. Masjid yang kita tuju bernama “Masjid Muhammad” yang berada di Jalan Diponegoro. Gila bener masjidnya, megah banget. Denger-denger ini masjid dibangun oleh seorang juragan yang berasal dari Arab. So, arsitekturnya kental banget dengan masjid Timur Tengah, khususnya Arab. Terdapat beberapa pintu yang amat besar dan mewah. Menariknya dari masing-masing pintu di beri nama dari sahabat-sahabat Nabi.
Pantai Mertasari
Setelah semua selesai, badan bersih dan perut kenyang usai sarapan kita bersiap untuk berangkat. Destinasi pertama kita ialah pantai Mertasari. Di pantai Mertasari ini yang terlihat hutan bakau, dan terdapat pula entah itu resort atau caffe yang mana untuk masuk area tersebut dikenakan biaya sekitar 20K. Tapi jika tak ingin masuk ke area (berbayar) tersebut kita masih bisa kok menikmati sisi pantai yang sebelahnya tanpa dikenakan biaya. Sebenernya di pantai Mertasari ini aku juga bingung, apa yang istimewa dari pantai ini, karena aku merasa pantai semacam ini juga banyak terdapat di Banyuwangi, tapi ya entahlah, mungkin terdapat keistimewaan lain yang tak aku lihat. Karena waktu masih pagi sekitar jam 07.00 wita banyak warga yang tengah jogging di sekitar pantai, dan memang tempatnya sangat mendukung, terdapat hutan bakau juga beberapa cemara pantai bikin udara pantai Mertasari amat seger buat jogging pagi. Namun dari kita justru tidak bisa berbuat banyak, apa yang harus kita lakukan di pantai ini.  Ya mungkin banyak dari kita merasa kalau ini pantai yaaa just so so gitu lho.
Sisi Pantai Mertasari yang Berbayar
Setelah merasa cukup menengok pantai Mertasari kita memilih untuk melanjutkan ke sebuah pantai yang bernama Water Blow. Aku mengira ini pantai ialah pantai dengan warna airnya yang amat biru dan jernih (like an Maldives at google picture), karena waktu tour guide bilang Water Blow aku menginterpretasikan Water Blue, kamvret ternyata salah. Sebelum menuju ke Water Blow ada permintaan dari rombongan yaitu untuk perjalanannya lewat jalan tol aja, biar lebih cepet sekaligus menikmati pemandangan laut dari atas tol. Pak sopirpun mengarahkan bisnya melewati jalan tol yang katanya satu-satunya jalan tol yang ada di Bali. Dari penjelasan tour guide ini merupakan tol laut terpanjang yang ada di Indonesia, dan sepertinya Asia Tenggara. Dan jalan tol ini juga merupakan sebuah kebanggaan dari masyarakat Bali khususnya, juga kebanggaan Indonesia pada umumnya karena semua SDM yang berperan dalam pembangunnya ialah dari anak-anak dalam negeri. Dan yang membanggakan lagi ini merupakan tol laut terpanjang namun paling hemat, dan paling cepat dalam pembangunannya. Wihh memang bener-bener membanggakan. Warga Bali sendiri menyebutnya sebagai Tol Tamiya, ya mungkin karena jalurnya memang seperti lintasan mainan mobil legendaris, Tamiya. Dari penjelasan tour guide pula bahwa sebenernya tol ini menghubungkan segi tiga emasnya Bali, yaitu Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai, dan Benoa. So, dengan adanya ini tol diharapkan untuk akses ke tiga tempat itu akan semakin lancar.
Meet Point penjemputan ke Water Blow yang Elite bingit
Setelah beberapa menit akhirnya kita nyampek di kawasan Water Blow. Sebelum masuk di pantai kita akan melewati jalan yang hampir mirip dengan jalan di kawasan perumahan elite. Dalam hati sih bilang ini wisata apaan. Ditambah destinasi sebelumnya yang biasa aja menurutku, jadi gak berani untuk berekspetasi lebih. Akan tetapi ketika nyampek pada suatu kawasan, setelah memasuki sebuah gapura, dalam hati barulah bisa berucap Wow.. Amazing. Benar-benar tempat yang menakjubkan, keren banget. Terdapat hamparan rumput hijau yang mulus dan juga luas. Ditambah terdapat sebuah patung besar yang berada ditengah hamparan rumput benar-benar eksotis. Tempatnya amat bersih dan terawat, memang gila bener ini tempat. Sembari menikmati pemandangan yang amat menakjubkan ku arahkan kaki ini untuk menyusrusi jalan ke arah pantai. Dan dari situ aku baru ngeh kalau ini tempat bernama Water Blow, not Water Blue, anjay. Jadi kenapa dinamakan Water Blow, karena terdapat pantai karang yang mempunyai hempasan ombak yang begitu dahsyat. Sanking dahsyatnya ombak yang menghempas batuan karang menimbulkan airnya itu naik tinggi man, dan karena air yang naik itu tinggi ditambah dengan efek dari ombak yang pecah membuat siapapun yang ada disitu dibuat terpukau melihatnya. Tak terasa udah beberapa jam kita menikmati Water Blow, dan sebenernya sayang  juga harus berpindah dari ini tempat. Tapi Pantai Pandawa udah menanti nih. Yab, destinasi selanjutnya ialah pantai Pandawa. Pantai pasir putih dengan background bukit kapurnya yang tak kalah eksotisnya.
Pantai Pandawa dengan Pasir Putih dan Juga Bukit kapurnya yang bikin silau
Karena baru pertama kali mau mengintip Pantai Pandawa sebenernya akupun penasaran dan amat antusias, seperti apa sih wujud asli ini pantai. Karena selama ini hanya melihat dari postingan temen di IG. Setelah bis melaju beberapa menit dari Water Blow akhirnya nyampek di kawasan Pantai Pandawa, dan Wow.. Panas man!. Mata juga silau, karena mungkin efek dari pantulan pasir putih ditambah dengan tebing disekeliling pantai pandawa yang juga berwarna putih karena merupakan tebing batuan kapur. Setelah turun dari bis ternyata rombongan berpencar mencari spot sendiri-sendiri. Aku sebagai anak bawang pun sebenernya bingung, mau kearah mana, dan mau ngapain. Ya untungnya sih ada Mas Satpam, Mas Eko yang masih tersisa dari rombongan, jadi bisa lah dijadikan pathner. Mas Eko pernah bilang kalau dia pernah bekerja di Bali beberapa waktu silam, jadi membuatnya hafal dengan wilayah Bali. Dia pun mulai bercerita tentang pantai Pandawa beberapa waktu silam. Dulu pantainya belum sekece saat ini, dulu untuk menuju pantai ini harus menanjaki bukit, ekstrim dan perjuangan banget katanya. Namun yang kusuka, penjelasannya ituloh, mbois ilakes. Detail, padet, dan menunjukan kalau dia ini seperti masyarakat Bali banget. Lah ini sebetulnya kita gak perlu repot-repot sewa tour guide kalau gitu.

Setelah berjalan beberapa meter dari parkiran ternyata kita ketemu dengan rombongan Pak Boss (Kepala Sekolah), Pak Samidi yang tengah berteduh di salah satu warung. Akhirnya aku dan Mas Eko pun ikutan nimbrung. Memang kalau rejeki gak kemana, kita pun ditawari kopi sama beliau. Ya udahlah langsung iya-kan aja, gak baik juga kan nolak rejeki. Beberapa dari kita memesan kopi sachet yang rasanya udah pasti sama disemua tempat. Namun ada yang menarik perhatianku ketika Mas Eko memesan Kopi Bali, “Kopi Mbali mbak” pesennya kepada mbak-mbak penjualnya. Aku pun terprovokasi dan akhirnya langsung ikut memesan Kopi Bali yang sama dipesan oleh Mas Eko. Mendengar kata Kopi Bali yang langsung tergambar di pikiranku sih ini merupakan Kopi Asli dari Bali, ya semacam kayak Kopi Kintamani yang mana itu diolah oleh masyarakat lokal Bali. Namun, ehm, setelah kopinya siap dan disajikan kepada kita akhinya aku baru “ngeh” seperti apa itu kopi Bali. Dari yang aku rasakan kemarin ternyata Kopi Bali ya hampir sama tuh dengan kopi-kopi hitam lainnya, yang membedakan hanya dari segi penyajiannya. Kopi Bali dalam penyajiannya kurang lebih hanya setengah gelas aja atau tidak sampai satu gelas penuh. Dan untuk buah kopinya gak harus dari Kintamani, nyatanya kemarin yang aku rasakan bukan Kintamani yang punya taste keasam-asaman. Kayaknya sih kopi bubuk kemasan gitu.

Setelah ngopi Pak Boss mengejak kita jalan menuju arah pantai. Dan busyet, rame banget man!. Mungkin karena hari libur ya. Sambil mengriyipkan mata karna silau kita  mengamati suasana di sekitar. Ternyata banyak pula bule yang hanya mengenakan bikini doang. Ya mungkin karena mereka kegerahan ya, akhirnya buka baju. Dibawah terik panas siang itu tiba-tiba Pak Boss berucap ngasih saran ke aku dan Mas Eko untuk berjalan ke arah pantai sebelah kiri. Karena katanya disana adalah spot yang lebih manteb buat cuci mata. Dengan pura-pura agak malu dalam hati berucap, “Ah, ini Pak Boss tau aja yang kita cari. Atau jangan-jangan spot itu merupakan spot langganan Pak Boss nih, kok hafal betul”. Setelah beberapa saat kemudian Pak Boss bilang mau cari tempat berteduh, karena gak kuat sama panasnya. Setelah Pak Boss pergi, aku sama Mas Eko pun saling bertatapan seakan udah paham dengan maksud kita masing-masing. Yes, kita menuju spot yang direcommended sama Pak Boss tadi.  Dan tara.. otak mesum kita pun mulai berakasi. Satu persatu bule berbikini seksi pun tak lepas dari pengamatan kita. Wkwkwkwk

Belum puas menikmati beautiful view kita harus bergegas untuk kembali kedalam bis. Karena perjalanan akan segera dilanjutkan. Destinasi selanjutnya ialah Krisna, sebuah pusat oleh-oleh khas Bali. Yang kita tuju ini adalah Krisna 3 yang berada di Sunset Road, Kuta. Denger-denger sih disitu merupakan pusat oleh-oleh khas Bali yang komplit dan harga yang relatif miring. Sebenernya sih gak ada niatan untuk beli oleh-oleh disitu, karena sebelumnya udah pesen oleh-oleh di temen yang kebetulan punya keluarga di Bali. Tapi sekedar untuk lihat-lihat gak ada salahnya. Sebelum masuk kedalam Krisna kita terlebih dahulu ditempeli sticker, tapi gak dijelaskan untuk apa fungsi dari sticker itu ditempel pada kita. Mungkin untuk dikasih lihat ke kasir ketika kita hendak mau bayar, atau sebetulnya punya fungsi lain, entahlah. Dan setelah kita masuk mulai terasa kalau ini market sangat besar untuk seukuran toko oleh-oleh. Bahkan baru pertama kali ini aku melihat pusat oleh-oleh sebesar dan sekomplit ini. Mulai dari kerajinan gantungan kunci, baju, celana, kosmetik, sampai kelas berat macam lukisan dan patung pun ada. Dan yang menarik buatku dibeberapa pojok market tersebut tersedianya stand gerai JNE. Jadi memungkinkannya kita untuk mengirim langsung barang yang kita beli tanpa harus mencari gerai jasa pengiriman diluar market. Atau bisa juga jadi alternatif kita kalau tidak mau susah payah membawa belanjaan ketika pulang nanti. Keren sih menurutku.

Aku lihat anggota rombongan berpencar dan sedang sibuk memilih barang belanjaan, termasuk Mas Eko yang tadi di Pantai Pandawa terlihat nyantai saat ini sedang antusias untuk memilih sesuatu. Daripada celingukan kayak orang ilang akupun juga ikutan sok-sokan untuk lihat-lihat barang yang ada. Ketika sedang mengamati kerajinan di spot maianan tradisional, tiba-tiba ada cewek berwajah India datang dan bertanya. “What this is”, “For what” sambil menyodorkan sebuah barang dari kayu hampir mirip asbak namun memiliki lubang yang dalam dan berbentuk panjang. Awalnya sih aku gak mengira kalau pertanyaan itu disampaikan kepadaku. Dan setelah sadar dia bertanya kepadaku lalu aku bilang, “oh sorry, I dont know abaut that.” Dia pun kembali bertanya, “This is for boil?”. Karena aku kurang yakin kalau itu barang sebagai peralatan masak akhirnya akupun jawab, “No, that’s ashtray. That’s for smoker u know”. Akhirnya itu cewek langsung mengiyakan dan setuju dengan jawaban ngawurku. Lalu aku basa-basi kepadanya, tanya dari mana, sama siapa, mau beli atau Cuma lihat-lihat doang. Dan setelah menjawab secukupnya lalu dia pun berlalu dengan senyumannya, karena mungkin dia mengira aku orang yang aneh dan akhirnya memilih untuk menghindar. Tak lama Mas Eko menemui ku dan bilang harus kembali ke bis. Yeah, akhirnya melanjutkan ke destinasi selajutnya. Melanjutkan ke destinasi yang sebenarnya (bukan wisata mall atau supermarket lagi).
Berjubelnya Pengunjung di Tanah Lot
Yang kita tuju kali ini adalah Tanah Lot. Disini adalah ujung dari trip kita kali ini. Sedih juga rasanya kalau mengingat ini adalah destinasi terakhir yang kita kunjungi hari ini. Namun  rasa penasaran membuatku antusias untuk melihat seperti apa sih tempat yang katanya terdapat pura di tengah lautnya itu. Aku merasa bis melaju melewati jalan yang tak seperti biasanya. Kali ini melewati pedesaan dan sesekali menemui hamparan sawah, bukan jalan perkotaan seperti menuju destinasi-destinasi sebelumnya. Mas Eko bilang kalau ini lewat jalur alternatif, jadi bakalan lebih deket ketimbang lewat jalan provinsi (jalan Gilimanuk-Denpasar) yang mana jalan itu harus memutar. Dan aku iyakan penjelasan Mas Eko tadi. Setelah beberapa puluh menit, sepertinya kurang lebih 90menitan akhirnya kita nyampek di Tanah Lot. Sebelum masuk ke area pantai, kita serombongan berfoto bersama di depan gapura gerbang masuk. Dan seperti khas Traveller Indonesia lainnya pasti kita bakalan heboh dan crowded. Sampai-sampai wisatawan asing pun gak bisa masuk dan harus menunggu rombongan kita selesai berfoto. Kasihan banget.
Banyak Wisatawan Lain yang Tak Bisa Masuk karena Menunggu Kita Berfoto
Seperti kebayakan tempat-tempat wisata yang pernah aku temui, sebelum masuk ke area pantai kita diarahkan melalui jalan dengan deretan gerai oleh-oleh. Gerai-gerai tersebut kebanyakan yang jagain ibuk-ibuk yang amat antusias menawarkan barangnya pada kita. Padahal kebanyakan dari kita cuek-cuek aja. Namun beberapa diantara kita ada juga yang terpincut untuk berhenti melihat dan akhirnya milih-milih barang disalah satu gerai. Salah satu sebabnya ya karena ada tulisan nominal harga yang murah bisa mendapatkan beberapa barang sekaligus. Lalu terdengar suara pengeras dari pengelola wisata yang mengumumkan jika nanti akan digelar Tarian Kecak. Tentu aku amat antusias dengar pengumuman itu. Karena selama ini tau Tarian Kecak hanya dari menyaksikan di tv. Kali ini ingin meyaksikannya langsung seperti apa sih pertunjukan live nya. Dan akhirnya haruslah pupus harapan itu sesaat terdengar bahwa pertunjukan akan dimulai sekitar pukul 18.00 wita, karena jelas gak memungkinkannya menunggu hingga waktu tersebut. Ditambah dengan biaya sekitar 60K yang bisa dikatakan mehong untuk sekelas Low Cost Traveller hanya untuk melihat sebuah pertunjukan tari.

Ternyata ketika pas nyampek di area pantai cukuplah ramai pengunjungnya, bahkan disalah satu titik sempat berjubel pula orang-orangnya. Terlihat beberapa bule tengah duduk ditangga yang menghadap ke pantai dengan menikmati senja yang cukup romantis. Sementara disisi tepat dihadapan bule-bule itu duduk terlihat segerombolan wisatawan muda (lokal), yang kelihatannya seusia anak SMP atau SMA tengah sibuk berfoto-foto atau menunjukan eksistensinya lewat kamera SLR entry level. Beberapa diantara mereka juga terlihat bermusyawah yang kelihatannya sibuk saling tunjuk untuk jadi delegasi ngomong guna mengajak berfoto seorang bule. Bahkan aku sempat iseng, aku tanya kepada mereka. Siapa sih bule itu, artis dari mana, artis apa, kok aku gak pernah lihat di youtube. Tentu mereka pun hanya celengekan. Dan yang aku rasa, memang itulah khas dari wisatawan Indonesia termasuk aku, lebih sibuk bereksistensi daripada menikmati spot wisata itu sendiri. Dan misteri yang masih berkembang sampai saat ini, kenapa wisatawan lokal termasuk aku terkadang kok antusias banget ingin mengajak bule berfoto bersama. Padahal belum jelas loh bule itu siapa, artis atau bukan.
Salah Satu Store Polo yang ada di Tanah Lot, Harga tak Perlu di Ragukan Lagi
Tak banyak yang aku nikmati ketika berada di Tanah Lot, karena agak sempitnya area pantai tak sebanding dengan jumlah pengunjung waktu itu. Bahkan aku tak menjumpai dimana keberadaan yang katanya terdapat ular suci disana. Akhirnya akupun memutuskan untuk kembali ke bis sekaligus menikmati suasana deretan gerai oleh-oleh yang kita lewati tadi, siapa tau ada sesuatu yang menarik. Hingga nyampek dimana bis terparkir ternyata gak sesuatupun yang aku dapat. Ya udahlah ngopi disalah satu warung sepertinya nikmat juga, sembari nunggu rombongan yang lain kumpul. Pilihanpun tertuju kepada Kopi Bali. Untuk memastikan bahwa Kopi Bali yang aku minum di Pantai Pandawa tadi benar-benar Otentik Kopi Bali atau bukan. Ya sebagai perbandingan aja lah ya. Karena aku masih penasaran akan wujud asli kopi Bali. Dan akhirnya aku harus mengakui, bahwa ternyata Kopi Bali di Tanah Lot tak beda jauh seperti yang ada di Pantai Pandawa. Terlihat sama dari segi ukuran penyajian, namun agak berbeda dari segi rasa, karena menggunakan kopi sachet berbeda merk. Hingga saatnya tak tersadar satu persatu rombongan udah kembali semua dan telah bersiap di dalam bis. Kita harus menyudahi trip kali ini dan bersiap untuk pulang. Terlihat raub wajah rombongan yang tampak berbeda-beda setelah berada di dalam bis, ada yang menahan capek setelah berjalan seharian, ada pula yang sumringah melihat galeri foto-foto di hape. Yang jelas trip kali ini amatlah menyenangkan dan mengesankan, bukan hanya aku merasakan, sepertinya yang lain juga demikian.

Kesan yang aku dapat pada trip kali ini ialah bukan masalah ngetrip kemana kita. Namun kebersamaan itulah yang membuat trip kali ini yang amatlah menyenangkan dan memberi kesan. Karna menyatukan kebersamaan seperti ini amatlah sulit. Meskipun terbiasa ngetrip sendirian atau solo travel, trip kali ini menyadarkan jika ngetrip bersama orang-orang terdekat jauh lebih fun. Semoga kebersamaan seperti ini dapat terus terjalin. Dan semoga juga agenda travelling seperti  ini dapat dikondisikan sebagai agenda rutin. Terimakasih bapak dan ibuk atas liburan gratisnya.

Menikmati Kebersamaan dalam Liburan di Pantai Mertasari

Sisi Sebelah Kiri dari Water Blow dengan View yang Super Kece, terlihat tuh Ada Kapal Pesiar di Laut

Hally Pad ketika Menuju Water Blow



Tak terasa paket data beberapa Giga telah habis sebelum jatuh tempo masa berlakunya. Ternyata biang keladinya ialah terlalu seringnya mengakses youtube yang beberapa waktu ini aku lakukan. Melihat travel vlog dari beberapa traveller mbois memang bikin penasaran, juga bikin iri pastinya. Dalam benak berpikir, kok dengan mudahnya mereka melakukan kegiatannya. Ya kegiatannya sih mudah, travellingnya sih mudah, nah terus gimana dengan akomodasinya, gimana dengan waktunya. Kemudian akupun membandingkan dengan apa yang terjadi pada diriku sendiri. Sungguh, ini sangatlah sulit bagiku. Selain terbatas dengan biaya akomodasi juga karena sulitnya mencari pathner trip yang benar-benar mbois. Maksudnya, bukan berarti aku meremehkan kemampuan dari teman-temanku, namun karena sulitnya membujuk mereka untuk diajak dolan atau ngetrip bareng. Sebagian dari mereka beralasan karena faktor kesibukan. Bisa dibilang sih hampir sebagian dari rangkaian ngetrip ku dilakukan seorang diri atau solo backpacking.

Awalnya sih aku melakukan solo backpacking karena keterpaksaan yang terdorong oleh rangkaian rasa penasaran akan sebuah tempat yang ingin aku kunjungi. Namun setelah dirasa, mantab juga nih ngetrip sendirian. Ada beberapa kenikmatan menurutku ketika melakukan solo backpacking ketimbang ngetrip secara rame-rame atau keroyokan. Selain lebih detail dalam menikmati spot destinasi ternyata bisa lebih fleksible dalam menentukan waktu berapa lama, kapan, dan destinasi mana yang akan dituju yang kadang muncul dadakan diluar itenary dan list spot yang telah ditentukan. Bahkan beberapa teman di forum backpacker juga bercerita jika selama solo backpackingnya selalu bertemu dengan teman baru. Hal seperti itu sebenernya juga sering aku alami, ya walaupun sih belum yang teman rasa pacar gitu. 

 
backpackermbois.com
Mengagumi keeksotisan Candi Prambanan
Ketika ngetrip sendirian hal yang sering aku alami salah satunya ialah sedikit terbatasnya dalam bereksistensi (foto-foto). Beda lah pokoknya ketika pas rame-rame bareng teman, bisa gantian. Mau minta tolong ke orang juga sungkan. Lalu selanjutnya nyasar, karena di beberapa daerah tidak memungkinkannya untuk akses google map.  Bahkan dibeberapa pengalaman juga google map tidak memberikan hasil yang akurat, yaitu salah jalan atau memberikan jalan yang tidak semestinya. Namun demikian beberapa backpackers berpendapat itulah letak seninya ngetrip, karna kita tidak akan menduga hal apa yang akan ditemui dan bisa jadi hal tersebut ialah bentuk surprise, sesuatu yang menarik di luar list spot.


Sekedar saran aja, jika ingin melakukan solo backpacking  atau ngetrip sendirian cari informasi terlebih dahulu mengenai destinasi tujuan (akses, keadaan sosial, penginapan, berapa estimasi biaya, dan lain sebagainya) kepada teman yang pernah berkunjung kesana, atau bisa juga dengan sharing via group traveller atau couchsurfing. Seperti Forum Backpacker Indonesia itu merupakan pilihan yang menurutku cukup mbois. Pilihlah destinasi atau tujuan yang aman dan ramah buat wisatawan, dan juga yang memiliki cost rendah atau murah. Salah satunya bisa mencobanya ke Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, atau tempat lain yang memiliki kredibilitas yang baik untuk wisatawan. Lalu selanjutnya, usahakan membawa lonely planet, atau paling tidak selembar printout peta untuk mengantisipasi jika kalau layanan google map tidak cukup membantu. And then, enjoy ur trip.

Translate

logo

Backpackermbois.com merupakan sebuah personal blog dari Hendri Uut F.

Isi atau konten di dalam blog ini merupakan sebuah orisinalitas pengalaman pribadi mengenai kegiatan bertualang.